Portal Pantura, Jakarta – Survei terbaru ZipRecruiter mengungkap fakta menarik: satu dari lima lulusan baru ternyata menyesali pilihan jurusan kuliahnya. Ilmu politik hingga hubungan internasional jadi jurusan yang paling banyak disesali.
Survei Libatkan 3.000 Responden
ZipRecruiter menyurvei 1.500 lulusan kuliah 2025 dan 1.500 mahasiswa yang akan lulus pada Maret-Mei 2026. Survei berlangsung pada 30 Januari hingga 16 Maret 2026, dengan responden berusia 20-29 tahun berdomisili di Amerika Serikat.
Hasilnya, sekitar 20,5 persen lulusan menyatakan penyesalan atas jurusan yang mereka pilih. Kebanyakan dari mereka berharap dulu memilih bidang sains atau kuantitatif.
Ilmu Humaniora Paling Banyak Disesali
Jurusan ilmu politik, hubungan internasional, dan kebijakan publik menempati posisi teratas jurusan yang paling disesali, dengan persentase 46,3 persen.
Posisi kedua ditempati jurusan komunikasi dan media dengan 39,2 persen. Sementara jurusan peradilan pidana atau penegakan hukum berada di angka 30,8 persen.
Dari rumpun sains, ilmu fisika dan kimia justru masuk daftar dengan 34,1 persen. Ilmu biologi turut disesali sejumlah lulusan dengan persentase 28,4 persen.
Daftar 10 Jurusan Paling Disesali
Berikut daftar lengkap 10 jurusan yang paling disesali lulusan baru menurut survei ZipRecruiter 2026:
- Ilmu Politik, Hubungan Internasional, atau Kebijakan Publik – 46,3%
- Komunikasi, Studi Media, atau Hubungan Masyarakat – 39,2%
- Studi Interdisipliner atau Studi Umum – 35,0%
- Ilmu-ilmu Fisika (Fisika, Kimia, Ilmu Bumi) – 34,1%
- Peradilan Pidana atau Penegakan Hukum – 30,8%
- Sosiologi, Antropologi, atau Pekerjaan Sosial – 30,2%
- Kesehatan Masyarakat atau Administrasi Kesehatan – 29,8%
- Ilmu Biologi (Biologi, Ilmu Saraf, Genetika) – 28,4%
- Bahasa Inggris, Sastra, atau Jurnalistik – 28,3%
- Sejarah atau Filsafat – 27,3%
Sulit Kerja dan Gaji Jadi Alasan Utama
Mayoritas lulusan menyesali jurusan karena kesulitan mendapat pekerjaan di pasar kerja saat ini. Faktor gaji turut memperkuat rasa kecewa mereka.
Banyak lulusan menghadapi kenyataan bahwa gaji di bidang mereka lebih rendah dari ekspektasi awal. Meski begitu, semangat mereka belum surut.
Survei mencatat bahwa 80,3 persen responden tetap optimistis bisa meraih karier impian dalam lima tahun ke depan. Mereka juga mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja.
Lulusan baru saat ini pun dinilai tidak pasif. Mereka aktif menambah pengalaman, memperluas akses jejaring, dan meningkatkan keterampilan agar lebih kompetitif di pasar kerja.***

