Portal Pantura- Di tengah semangat geliat swasembada pangan, jargon ketahanan pangan nasional, para petani di Kecamatan Warureja justru tengah mempraktikkan seni bertani tanpa air.
Seni bertani tanpa air sebuah keterampilan hidup yang tampaknya akan segera masuk dalam kurikulum pelatihan pertanian era baru.
Bendung Cipero Warureja, yang katanya dulunya primadona pengairan, kini lebih mirip peninggalan arkeologis.
Saking tuanya, ia lebih cocok jadi lokasi syuting film dokumenter, bahkan, rumor beredar beberapa petani sudah mulai berdoa agar hujan turun persis di atas sawah karena mengandalkan bendungan hanya akan menghasilkan ladang harapan yang kering.
Dilansir dari siaran resmi Humas Pemkab Tegal, Kepala Desa Banjaragung, yakni Idar Baktiarso, dengan nada diplomatis khas pejabat desa, menyebut bahwa bendungan tersebut sudah “puluhan tahun tidak tersentuh”.
Saking lamanya tak disentuh, bahkan warga curiga jangan-jangan bendungan itu sedang menjalani detox sosial. Tapi tenang, katanya, bila nanti normalisasi dilakukan, produktivitas pertanian bisa meningkat.
Bahkan Syukur-syukur bisa ekspor beras ke luar negeri atau minimal, keluar wilayah kecamatan.
Disisilain, Ketua KTNA Warureja, Subaidin Tahir, mengungkapkan kegalauan khas pata petani, dana ketahanan pangan yang seharusnya membantu mereka malah menguap ke BUMDes.
Bukannya pupuk atau irigasi, dana malah berubah wujud jadi kambing dan usaha peternakan. Kalau begini terus, jangan heran kalau suatu hari nanti Warureja lebih terkenal karena ternaknya ketimbang padi.
Ketika giliran Wakil Bupati Tegal Akhmad Kholid bicara saat melakukan kunjungan kerja diwialayah tersebut, suasana menjadi penuh harapan seperti biasa.
Ia menjanjikan akan terus “mengupayakan” permintaan petani ke tingkat provinsi dan pusat meski belum mengetahui entah kapan akan terwujud.
Masalahnya, Bendung Cipero ternyata bukan urusan Pemkab, tapi Pemprov. Mirip seperti anak kos yang mau memperbaiki atap bocor, tapi harus minta izin ke induk semang di kota sebelah.
Tapi tenang, Pemerintah Kabupaten Tegal tetap akan “mendorong”. Entah mendorong air supaya mengalir, atau mendorong wacana agar tetap hidup di meja rapat.
Sebagai penutup acara yang penuh makna ini, pemerintah membagikan 20 paket sembako seperti beras, minyak, gula, dan mie instan kepada warga.
Dan hal ini disambut warga dengan senang hati, pasalnya kalau air dari Bendung Cipero belum mengalir, paling tidak ada air untuk merebus mie instan.
Warureja, bertahan di antara ladang-ladang kering, terus menabur harapan. Siapa tahu nanti ada “Bendung Cipero Emas” yang muncul berkat perhatian pemerintah.
Atau minimal, warga bisa membuka wisata bendung kering sebagai edukasi tentang pentingnya air dan kelangkaannya di era birokrasi.***

