Portal Pantura, Tegal – Di tengah arus zaman yang bergerak cepat dan deras ini Kabupaten Tegal menyisakan ruang hening bagi ritual yang tak tergoyahkan waktu.
Setiap pertengahan Bulan Mei, tepat saat ulang tahun Kabupaten Tegal, pusaka bersemayam di Padepokan Purbaya di Desa Kalisoka Tegal Tombak Kyai Pleret kembali pancarkan wibawanya.
Tombak Kyai Pleret merupakan benda bukan sekadar logam tua yang berujung runcing, tapi ia merupakan dari simbol, Narasi dan perjanjian tak tertulis antara leluhur dan generasi kini.
Dalam prosesi yang digelar di rangkaian Hari Jadi ke 424 Kabupaten Tegal pada Jumat 16 Mei 2025 kemarin Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman menjadi saksi dan menyerahkan tombak ini kepada keluarga Kalisoka.
Menariknya lagi dalam upacara sakral dibalut pakaian adat dan bahasa Jawa halus, seolah menyentuh kembali akar jati diri masyarakat Tegal.
“Kulo pasrahaken pusaka tumbak Kiai Pleret minangka wujud kencenging tekad pejabat Pemerintah Kabupaten Tegal ngemban amanatipun rakyat, ucap Bupati Tegal Ischak Maulana dalam balutan tradisi.
Tangan-tangan tua dari para keluarga Kalisoka pun menyambutnya dengan khidmat. Di wajah mereka, tak tampak sekadar tugas suci tapi melainkan juga amanat suci.
Sebuah garis keturunan spiritual yang terus dilanjutkan tanpa terputus. Ahmad Zamzami, sesepuh keluarga Kalisoka ini menegaskan dengan kalimat senada bila Tradisi ini bukan hanya sekadar dirawat melainkan dihidupi.
Desa Kalisoka bukan hanya sebagai titik geografis di peta Kabupaten Tegal tetapi adalah poros kosmologis dalam konteks budaya lokal.
Di sinilah tombak Kyai Pleret dijamas serta pula dimandikan secara ritual sebelum diarak.
Selama satu malam, pusaka Tombak Kiai Pleret itu disemayamkan di Padepokan Purbaya Tegal dan tempat yang diyakini memiliki hubungan batin dengan asal-usul kekuasaan dan spiritualitas Tegal.
Keesokan harinya, tombak itu tidak sekadar berpindah tempat. Ia dikirab. Kata “kirab” dalam tradisi Jawa bukan sekadar parade atau pawai tetapi juga membawa makna.
Makna pengiringan penghormatan, sekaligus pergerakan nilai dari satu ruang ke ruang lain.
Dalam Hari Jadi ke 424 Kabupaten Tegal pusaka ini dibawa mulai dari Kalisoka menuju ke Rumah Dinas Bupati Tegal diiringi dengan pawai sedekah bumi.
Dan kemudian pada Minggu 18 Mei 2025 Pusaka akan kembali di Kirab menuju ke Gedung DPRD Kabupaten Tegal.
Tombak Kyai Pleret melintasi deretan ruang ruang kekuasaan, seolah menjadi pengingat akan amanat rakyat yang tak boleh dikhianati.
Tahun ini, ada satu hal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak ada panji pakta integritas yang biasa turut dikirab.
Disampaikan Ahmad Tarifudin, sesepuh Kalisoka, bahwa panji tersebut adalah simbol administratif pemerintahan saat ini, bukan bagian pusaka diwariskan secara spiritual.
Keputusan ini seolah ingin menegaskan satu hal: dalam dunia yang berubah ada yang tak boleh digeser.
Muhammad Nur Amani, penjamas pusaka keluarga Kalisoka, menyebutkan langkah ini upaya mengembalikan pakem.
Bahwa dalam kirab pusaka,Tombak Kyai Pleret dan pusaka pengiring yang patut dimuliakan.
Ini bukan bentuk konservatisme yang kaku. Melainkan kesetiaan terhadap jejak.
Seperti seorang pelukis yang mengerti warna-warna asli lukisan leluhurnya, keluarga Kalisoka menolak menambah ornamen baru yang tak memiliki akar.
Setiap kali tombak Kyai Pleret diarak akan disapa oleh sejarahnya sendiri. Ia seperti cermin yang tak hanya dapat memantulkan wajah, tapi juga nilai.
Ia mengajarkan akan kekuasaan bukan semata jabatan, tapi amanat dan tanah subur bukan hasil kebetulan, melainkan hasil dari penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Tombak ini bukan sekadar benda tetapi mengandung semangat gotong royong, keberanian para pendiri Tegal, dan doa-doa yang terus digumamkan diam-diam dalam setiap langkah kirabnya.
Dan saat ribuan pasang mata melihat pusaka itu melintasi jalanan Slawi, mungkin banyak yang tak tahu nama-nama para penjaga pusaka itu.
Tapi justru di situlah letak keabadian sebuah tradisi ketika pusaka itu tidak membutuhkan pengakuan untuk tetap hidup.***

