TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ekonomi

5 Aset Berisiko Tinggi yang Harus Dihindari Saat Resesi

×

5 Aset Berisiko Tinggi yang Harus Dihindari Saat Resesi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)
Ilustrasi uang. (Mufid Majnun)
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – bukan hanya ancaman bagi negara atau konglomerat. Krisis ini bisa menghantam siapa saja, dari pekerja kantoran hingga pengusaha besar.

Berdasarkan data historis krisis 1998, 2008, dan pandemi COVID-19, banyak investor kehilangan aset karena salah menempatkan dana. Bukan karena kurang uang, tetapi karena memilih yang keliru.

Ekonom memperkirakan resesi global berikutnya dapat terjadi dalam 3-5 tahun ke depan. Utang Amerika Serikat terus membengkak, sementara ketegangan geopolitik dunia meningkat.

1. Saham Spekulatif Tanpa Fundamental Kuat

iklan

Saham gorengan atau saham spekulatif menjadi korban pertama saat resesi melanda.

Perusahaan yang merugi bertahun-tahun namun valuasinya tinggi akan langsung terpukul. Investor akan beralih ke aset aman, meninggalkan saham dengan fundamental lemah.

Contoh nyata: saat bubble dot-com pecah, nilai pasar hilang lebih dari 70%. Startup teknologi pada 2021-2022 juga anjlok drastis, bahkan ada yang menjadi “perusahaan zombie.”

Strategi aman: di perusahaan dengan profit konsisten, cash flow positif, dan mampu membayar dividen stabil.

Sektor defensif seperti consumer staples, utilitas, dan energi dasar cenderung bertahan saat resesi. Masyarakat tetap butuh makanan, minuman, dan logistik meski lesu.

2. Properti dengan Utang Besar

Banyak investor membeli properti menggunakan leverage atau utang bank. Ini menciptakan bom waktu saat resesi datang.

Ketika krisis terjadi, permintaan turun, harga sewa merosot, tapi bunga bank justru naik. Cicilan tetap berjalan meski properti sulit disewakan.

Krisis subprime mortgage Amerika 2008 membuktikan hal ini. Ribuan orang kehilangan aset dan bangkrut karena tidak mampu membayar cicilan.

Di Indonesia, nilai apartemen bisa turun 50% atau lebih saat resesi. Properti yang dibeli Rp2 miliar hanya laku Rp1 miliar, bahkan sulit menemukan pembeli.

Langkah antisipasi:

  • Lunasi cicilan dengan bunga tinggi dalam 2 tahun ke depan
  • Hindari over-leveraging atau utang berlebihan
  • Fokus pada properti yang menghasilkan cash flow positif seperti hotel, kosan, atau properti komersial dengan penyewa tetap

3. Uang Tunai Tanpa Strategi

Menyimpan uang di bank tanpa strategi justru berbahaya.

Inflasi menggerogoti nilai uang secara perlahan. Jika inflasi 3% per tahun, daya beli uang Anda berkurang 3% setiap tahunnya.

Saat resesi, pemerintah sering mencetak uang untuk pelonggaran moneter. Hasilnya: inflasi meningkat, mata uang melemah.

Yang lebih mengejutkan, bunga deposito bisa lebih rendah dari inflasi. Jika inflasi 9% tapi bunga bank hanya 3%, Anda rugi 6% meski menabung.

Di Jepang pernah terjadi bunga bank minus 1% saat resesi. Menabung di bank malah mengurangi saldo.

Solusi bijak:

  • Siapkan dana darurat untuk pengeluaran 12-24 bulan
  • Investasikan sisa dana ke instrumen produktif seperti Surat Berharga Negara (SBN), sukuk, atau money market fund
  • Simpan cash reserve untuk membeli aset murah saat krisis

4. Barang Mewah dengan Likuiditas Rendah

Jam tangan mahal, tas branded, mobil sport, lukisan, dan barang koleksi terlihat prestisius. Namun likuiditasnya sangat rendah saat krisis.

Ketika resesi, pembeli barang mewah menghilang. Pemilik terpaksa menjual dengan diskon brutal, bahkan 70%.

Seorang kolektor pernah membeli lukisan Rp12 miliar. Saat butuh uang karena resesi, lukisan itu hanya laku Rp300-400 juta. Bahkan sulit menemukan pembeli.

Motor atau mobil mewah mengalami nasib serupa. Pasar kecil, pembeli terbatas, dan harga jual anjlok drastis.

Alternatif lebih baik:

  • Prioritaskan aset mudah dijual seperti emas
  • Pilih barang dengan harga transparan dan pasar luas
  • Hindari barang koleksi dengan pasar terbatas

5. Bisnis dengan Cadangan Cash Tipis

Perusahaan dengan margin tipis, utang besar, dan tanpa dana cadangan sangat rentan bangkrut saat resesi.

Banyak bisnis terlihat ramai dari luar dengan omzet besar. Tapi di balik layar, margin keuntungan setipis kertas dan biaya operasional tinggi.

Saat resesi, permintaan turun tapi pasokan masih ada. Cash flow semakin seret. Perusahaan terpaksa PHK massal hingga akhirnya tutup.

Contoh: bisnis seafood di Maluku dengan omzet besar namun margin sangat tipis. Biaya solar, listrik, dan pencurian membuat operasional sulit. Akhirnya perusahaan bubar bukan karena produk jelek, tapi kehabisan nafas finansial.

Kriteria aman:

  • Pilih perusahaan dengan cadangan cash kuat (contoh: Berkshire Hathaway, IPC)
  • Cari bisnis dengan cash flow sehat dan margin keuntungan memadai
  • pada perusahaan yang efisien dan bisa memangkas biaya tidak penting

Strategi Menghadapi Resesi

Resesi bukan akhir, melainkan kesempatan bagi yang siap.

Orang yang selamat dari krisis bukan yang paling pintar atau paling berani. Mereka yang survive adalah orang dengan nafas panjang dan cadangan peluru.

Prinsip utama:

  • pada aset fleksibel dan liquid
  • Disiplin menolak spekulatif
  • Fokus pada survivability, bukan ekspansi agresif

Pandemi COVID-19 membuktikan hal ini. Investor dengan strategi matang justru meraup keuntungan besar dari diskon saham dan properti.

Kesimpulan

Resesi pasti datang dalam hidup setiap orang, minimal 2-3 kali sepanjang usia produktif.

Persiapan dimulai dari sekarang: kurangi utang, bangun dana darurat, dan pilih aset dengan fundamental kuat.

Resesi bukan momok, tapi peluang emas bagi investor cerdas yang telah mempersiapkan diri.***

Setyo

Terbaru dari Setyo