IKLAN
Inside

Teks Pidato Lengkap AH Nasution Saat Melepas 7 Jenazah Pahlawan Revolusi G30S PKI

Avatar photo
×

Teks Pidato Lengkap AH Nasution Saat Melepas 7 Jenazah Pahlawan Revolusi G30S PKI

Sebarkan artikel ini
âšĦ RINGKASAN
Mengenang pengkhianatan G30S/PKI dan pidato penuh haru Jenderal AH Nasution saat melepas 7 Pahlawan Revolusi pada HUT TNI 5 Oktober 1965.

Portal Pantura – Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan peristiwa kelam pengkhianatan G30S/ pada tahun 1965 silam. Tragedi berdarah tersebut telah merenggut nyawa para perwira terbaik bangsa yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

​Jenderal Besar Abdul Haris (AH) Nasution menjadi satu-satunya perwira tinggi berpangkat jenderal yang berhasil selamat dari upaya penculikan malam kelam itu. Meski selamat, beliau harus kehilangan putri tercintanya, Ade Irma Suryani, serta ajudannya, Letnan Satu Pierre Tendean.

iklan

Duka Dihari Angkatan Bersenjata

Puncak rasa duka dan kesedihan mendalam terpancar jelas pada Selasa, (05/10/1965) silam. Tepat di hari peringatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI), ketujuh jenazah Pahlawan Revolusi dilepas menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.

​Dengan suara bergetar dan menahan rasa duka mendalam, Jenderal Nasution yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata berdiri menyampaikan pidato perpisahan. Beliau menegaskan bahwa TNI tidak akan pernah mundur menghadapi fitnah dan siap meneruskan perjuangan para pahlawan.

Isi Pidato Lengkap Jenderal A.H. Nasution (5 Oktober 1965)

Berikut adalah naskah lengkap pidato bersejarah yang dibacakan Jenderal A.H. Nasution saat melepas tujuh jenazah Pahlawan Revolusi:

​”Para prajurit sekalian. Kawan-kawan sekalian. Terutama rekan-rekan yang sekarang kami sedang lepaskan.

​Bissmillahirrahmanirrahiim. Hari ini, hari angkatan bersenjata kita, hari yang selalu gemilang, tetapi yang kali ini, hari yang dihinakan, oleh fitnahan, dihinakan oleh penghianatan, dihinakan oleh penganiayaan.

​Tetapi hari angkatan bersenjata kita, kita setiap prajurit tetap rayakan dalam hati sanubari kita, dengan tekad kita, dengan nama Allah yang maha kuasa, bahwa kita akan tetap menegakkan kejujuran, kebenaran, keadilan.

​Jenderal Suprapto, Jenderal Hartono, Haryono, Jenderal Parman, Jenderal Panjaitan, Jenderal Sutoyo, Letnan Tendean.

​Kamu semua mendahului kami, kami semua yang kamu tinggalkan punya kewajiban meneruskan perjuangan kita, meneruskan tugas angkatan bersenjata kita, meneruskan perjuangan TNI kita, meneruskan tugas yang suci.

​Kamu semua, tidak ada yang lebih tahu dari pada kami yang di sini, dari pada saya sejak 20 tahun kita selalu bersama sama membela negara kita, perjuangan kemerdekaan kita, membela pemimpin besar kita, membela cita cita rakyat kita.

​Justru di sini kami semua, saksi yang hidup, kamu adalah telah berjuang, sesuai dengan kewajiban kita semua, menegakkan keadilan, kebenaran, kemerdekaan. Tidak ada yang ragu ragu, kami semua sedia juga, mengikuti jalan kamu. Jika memang fitnah mereka itu benar, kami akan buktikan.

​Rekan rekan, adik adik saya sekalian. Saya sekarang sebagai yang tertua, dalam TNI yang tinggal bersama lainnya, akan meneruskan perjuangan kamu, membela kehormatan kamu, menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI.

​Sebagai pahlawan menghadaplah, kepada asal mula kita, yang menciptakan kita, Allah SWT. Karena akhirnya Dialah panglima kita Yang Paling Tertinggi. Dialah yang menentukan segala sesuatu, juga atas diri kita semua.

​Tetapi dengan keimanan ini juga, kami semua yakin, bahwa yang benar akan tetap menang, dan yang tidak benar akan tetap hancur. Fitnah, fitnah berkali kali, fitnah lebih jahat dari pembunuhan, lebih jahat dari pembunuhan, kita semua difitnah, dan saudara saudara telah dibunuh, kita diperlakukan demikian.

​Tapi jangan kita, jangan kita dendam hati, iman kepada Allah SWT, iman kepada Nya, mengukuhkan kita. Karena Dia perintahkan, kita semua berkewajiban, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.”

Pesan Moral dan Refleksi Kebangsaan

Pesan mendalam dari Jenderal Nasution mengenai “fitnah lebih jahat dari pembunuhan” menjadi pengingat abadi bagi seluruh rakyat Indonesia. Keteguhan hati untuk tidak menyimpan dendam, melainkan bersandar pada keadilan Tuhan, menjadi warisan nilai moral yang sangat berharga.

​Mengenang peristiwa kelam G30S/ bukan sekadar mengingat luka masa lalu. Agenda ini menjadi momentum untuk terus memperkuat persatuan nasional serta menjaga keutuhan NKRI dari segala bentuk ancaman dan pengkhianatan.***

Tim Redaksi

Muh. Faqih Mawardi
Reporter Muh. Faqih Mawardi
---
Penulis ---
Yudhi P
Editor Yudhi P
IKLAN
Muh. Faqih Mawardi

Terbaru dari Muh. Faqih Mawardi

iklan