UPDATE TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ekonomi

Harga Emas Melemah Usai Data Inflasi AS, Investor Wait and See

×

Harga Emas Melemah Usai Data Inflasi AS, Investor Wait and See

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi emas. Foto: Michael Steinberg/pexels.
Ilustrasi emas. Foto: Michael Steinberg/pexels.
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura, Jakarta – Harga dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (18/12/2025) setelah bergerak naik selama tujuh hari berturut-turut. Komoditas safe haven ini ditutup di level US$4.331,89 per troy ons, turun 0,21% menurut data Refinitiv.

Penurunan ini mengakhiri tren penguatan yang mencapai 3,12% dalam seminggu terakhir. Namun pada Jumat (19/12/2025) pukul 06.25 WIB, harga kembali menguat tipis 0,07% ke posisi US$4.334,95 per troy ons.

Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan

Pelemahan harga dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang mengejutkan pasar. Tingkat inflasi tahunan AS tercatat 2,7% pada November 2025, terendah sejak Juli. Angka ini jauh di bawah perkiraan pasar yang mematok 3,1% dan lebih rendah dari periode sebelumnya yang sebesar 3%.

iklan

Inflasi inti yang mengecualikan komponen volatil seperti makanan dan energi juga turun menjadi 2,6%. Ini merupakan level terendah sejak Maret 2021 dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3%.

Sentimen Pasar Terbelah

Data inflasi yang mereda menciptakan dilema bagi pelaku pasar. Di satu sisi, penurunan inflasi mengurangi daya tarik sebagai instrumen lindung nilai inflasi.

“Inflasi terlihat turun lebih cepat dari perkiraan. Hal ini mengurangi daya tarik membeli perlindungan terhadap inflasi,” kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.co.

“ selama ini menjadi lindung nilai inflasi utama, sehingga pelemahannya cukup masuk akal setelah rilis laporan CPI,” tambahnya.

Di sisi lain, inflasi yang menurun membuka peluang lebih besar bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga. Kontrak berjangka suku bunga acuan federal funds mencerminkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk pemangkasan suku bunga pada pertemuan Januari.

Lingkungan suku bunga rendah umumnya menguntungkan bagi aset tanpa imbal hasil seperti . Potensi pelemahan dolar AS akibat pemotongan suku bunga juga dapat menopang harga ke depan.

Target Harga Masih Optimistis

Meski mengalami koreksi, analis tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang. Peter Grant, wakil presiden dan kepala strategi logam mulia di Zaner Metals, menilai tren masih sangat positif.

“Pada akhirnya diperkirakan akan terjadi penembusan ke atas. Target kenaikan saya berada di US$4.515,63, dan US$5.000 masih merupakan target yang valid,” ujarnya.

Perak Ikut Terkoreksi, Platinum dan Paladium Menguat

Harga perak mengikuti jejak dengan anjlok 1,29% ke US$65,43 per troy ons pada perdagangan Kamis. Penurunan ini kontras dengan kenaikan hampir 4% pada Rabu yang menempatkan perak di level tertinggi US$66,28 per troy ons.

Pada Jumat pukul 06.26 WIB, perak menguat tipis 0,17% ke US$65,54 per troy ons. Sepanjang 2025, perak mencatat kenaikan fantastis 126% secara year-to-date, melampaui kinerja emas berkat lonjakan permintaan investasi dan kekhawatiran defisit pasokan.

Sementara itu, platinum naik 1,2% menjadi US$1.922,05 per ons, level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun. Paladium juga melonjak 3,7% ke hampir tiga tahun tertinggi di US$1.708,72.

“Gelombang kenaikan harga logam mulia kini menyebar dari perak ke platinum. Harga platinum terdorong oleh permintaan kuat dari China,” tulis Commerzbank dalam laporannya.

Pelaku pasar kini menanti keputusan The Fed pada pertemuan Januari untuk menentukan arah pergerakan emas dan logam mulia lainnya di awal tahun 2026.***

Setyo

Terbaru dari Setyo