Portal Pantura – Indonesia kini disebut-sebut menjadi negara dengan tingkat penipuan lowongan kerja tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Data SEEK menunjukkan 38% dari total upaya penipuan di kawasan ini terjadi di Indonesia, dengan 62% khusus dalam kategori penipuan lowongan pekerjaan.
Posisi Indonesia sebagai hotspot terbesar ini jauh melampaui negara lain di kawasan yang sama. Filipina berada di urutan kedua dengan 20% dari total upaya penipuan di Asia Pasifik.
Modus Operandi Penipu
Pelaku kejahatan menggunakan aplikasi pesan instan dan media sosial sebagai sarana utama mereka. WhatsApp, Telegram, dan platform sosial lainnya menjadi medan operasi para scammer.
Penipu kerap mengatasnamakan perusahaan rekrutmen ternama seperti Jobstreet untuk menambah kredibilitas tawaran mereka. Mereka menghubungi calon korban secara langsung dengan menawarkan pekerjaan paruh waktu.
Tugas yang ditawarkan terlihat sangat sederhana. Korban diminta memberikan like atau subscribe pada konten di media sosial. Kesederhanaan tugas ini menjadi daya tarik utama, terutama bagi pencari kerja yang membutuhkan penghasilan cepat.
Pola Penipuan Bertahap
Penipu menjalankan aksinya secara sistematis dalam beberapa tahap. Tahap pertama dirancang untuk membangun kepercayaan korban.
Pada fase awal, pelaku memberikan komisi kecil kepada korban. Pembayaran ini menciptakan ilusi legitimasi dan membuat korban percaya bahwa sistem benar-benar berfungsi.
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku mulai mengarahkan korban ke tahap berikutnya. Mereka memperkenalkan “tugas lanjutan” yang memerlukan investasi dari korban.
Korban diminta melakukan top-up atau menyetor sejumlah deposit. Penipu menjanjikan dana tersebut akan dikembalikan bersama komisi yang lebih besar. Namun, begitu dana disetor, uang tersebut menghilang tanpa bisa ditarik kembali.
Pernyataan Resmi Jobstreet
Willem Najoan, Operations Director Indonesia Jobstreet by SEEK, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini. Menurutnya, temuan yang menempatkan Indonesia sebagai sasaran utama penipuan lowongan kerja sangat mengkhawatirkan.
Tim Redaksi
