Portal Pantura, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah melemah 151 poin atau 0,84 persen ke level Rp18.187 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu sejumlah sentimen negatif dari luar dan dalam negeri. Ledakan di Iran Guncang Pasar Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu utama. Suara ledakan dilaporkan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi. Situasi itu mengikis harapan pasar atas berakhirnya konflik lebih luas. Aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz pun masih terancam terhenti. Israel mengonfirmasi serangan terhadap pabrik petrokimia di barat daya Iran. Serangan lain juga menghantam sejumlah target militer. Langkah Israel itu terjadi meski Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menahan diri. Iran sebelumnya membalas dengan rentetan rudal ke target Israel pada Minggu (7/6/2026). Namun Trump menegaskan kesepakatan damai masih bisa dicapai. "Saya yang menentukan semuanya. Dia tidak menentukan," kata Trump kepada Financial Times, merujuk pada Netanyahu. Iran sendiri mensyaratkan gencatan senjata dengan Lebanon sebagai prasyarat kesepakatan damai dengan Washington. Data Tenaga Kerja AS Persulit Pemangkasan Suku Bunga Dari Amerika Serikat, laporan ketenagakerjaan Mei 2026 jauh melampaui ekspektasi. Ekonomi AS menambah 172 ribu lapangan kerja, jauh di atas perkiraan 85 ribu. Data bulan April juga direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3 persen. Data kuat ini memperkecil ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi dari harga energi semakin tinggi. Pasar kini menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan Rabu (10/6/2026). Defisit Melebar, Cadangan Devisa di Level Terendah 23 Bulan Di dalam negeri, tekanan fiskal turut memperlemah rupiah. Kekhawatiran pasar berpusat pada besarnya belanja program andalan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Dua program itu dinilai memperlebar defisit neraca transaksi berjalan seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia. Beban subsidi BBM juga semakin berat. Lonjakan harga minyak mentah akibat ancaman penutupan Selat Hormuz mendorong kebutuhan dolar AS melonjak dan berpotensi membengkakkan utang pemerintah. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat turun. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS, turun dari 146,2 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Angka ini merupakan level terendah dalam 23 bulan terakhir, atau sejak Juni 2024 ketika cadangan devisa berada di posisi 140,2 miliar dolar AS. Meski demikian, BI menegaskan cadangan devisa masih cukup. Posisinya setara pembiayaan 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor. Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.***