Data bulan April juga direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3 persen.
Data kuat ini memperkecil ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi dari harga energi semakin tinggi.
Pasar kini menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan Rabu (10/6/2026).
Defisit Melebar, Cadangan Devisa di Level Terendah 23 Bulan
Di dalam negeri, tekanan fiskal turut memperlemah rupiah. Kekhawatiran pasar berpusat pada besarnya belanja program andalan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Dua program itu dinilai memperlebar defisit neraca transaksi berjalan seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.
Beban subsidi BBM juga semakin berat. Lonjakan harga minyak mentah akibat ancaman penutupan Selat Hormuz mendorong kebutuhan dolar AS melonjak dan berpotensi membengkakkan utang pemerintah.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat turun. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS, turun dari 146,2 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
Angka ini merupakan level terendah dalam 23 bulan terakhir, atau sejak Juni 2024 ketika cadangan devisa berada di posisi 140,2 miliar dolar AS.
Meski demikian, BI menegaskan cadangan devisa masih cukup. Posisinya setara pembiayaan 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor.
Rupiah Diprediksi Masih Tertekan
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.***

