UPDATE TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ekonomi

Rupiah Terseret Krisis Hormuz, Beban Bunga Utang RI Tembus Rp99,8 Triliun

×

Rupiah Terseret Krisis Hormuz, Beban Bunga Utang RI Tembus Rp99,8 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi rupiah. (Foto: Mufid Majnun/Unspalsh)
Ilustrasi rupiah. (Foto: Mufid Majnun/Unspalsh)
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura, Jakarta – Tekanan ganda menghantam rupiah: gejolak geopolitik di mendorong harga minyak melampaui USD 100 per barel, sementara di dalam negeri beban bunga pemerintah terus menggunung.

melemah tipis 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.893 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (12/3/2026). Meski angkanya terlihat kecil, tekanan di balik pelemahan ini jauh lebih kompleks dari sekadar fluktuasi harian.

Harga Minyak Melonjak, Selat Hormuz Terancam Diblokir

Pemicu utama tekanan rupiah datang dari . Harga minyak mentah dunia melonjak tajam melewati USD 100 per barel setelah laporan media internasional menyebut dua kapal tanker dihantam di perairan dekat Irak. Eskalasi ini diperparah oleh kabar bahwa Oman mengevakuasi terminal ekspor minyak utamanya, dan Iran disebut-sebut memblokir Selat Hormuz—jalur vital yang memasok sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia.

iklan

Lonjakan harga energi ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi jangka panjang. Pelaku pasar pun bersiap menghadapi kemungkinan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank-bank sentral dunia dalam beberapa bulan ke depan.

Situasi semakin tak menentu karena sinyal dari Washington pun simpang siur. Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabatnya berulang kali menyatakan konflik dengan Iran hampir berakhir, namun permusuhan antara AS, Israel, dan Iran di lapangan terus berlanjut. Ketidakpastian ini membuat harga komoditas, termasuk logam, bergerak liar sepanjang pekan ini.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah

Di sisi data ekonomi, rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Februari sesuai ekspektasi pasar—tidak memberi kejutan, tapi juga tak mampu meredakan kekhawatiran. Perhatian kini beralih ke data indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures) bulan Januari yang akan dirilis Jumat ini.

PCE merupakan tolok ukur inflasi yang paling diperhatikan oleh Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga. Hasil rilis data ini berpotensi menjadi katalis besar bagi pergerakan dolar AS dan mata uang emerging market, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.

APBN Positif di Permukaan, Tapi “Gali Lubang Tutup Lubang” di Baliknya

Dari dalam negeri, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 mencatatkan hasil yang terkesan positif. Penerimaan pajak tumbuh lebih dari 30 persen, sementara penyerapan belanja negara naik 41,9 persen secara tahunan.

Namun, di balik angka-angka menggembirakan itu, tersimpan persoalan struktural yang serius.

Realisasi keseimbangan primer masih mencatatkan defisit Rp35,9 triliun—sinyal bahwa pemerintah masih menarik baru untuk menutup kewajiban pokok lama. Kondisi ini lazim disebut “gali lubang tutup lubang” dalam pengelolaan fiskal.

Beban Bunga Dua Kali Lipat Lebih Besar dari Subsidi

Yang lebih mengkhawatirkan adalah besarnya beban bunga . Dengan defisit anggaran tercatat Rp135,7 triliun dan defisit keseimbangan primer Rp35,9 triliun, maka estimasi pembayaran bunga periode Januari–Februari 2026 mencapai Rp99,8 triliun.

Angka tersebut setara 16,64 persen dari total pagu pembayaran bunga sepanjang 2026 yang sebesar Rp599,4 triliun—dan naik signifikan 25,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp79,3 triliun.

Lebih mengejutkan lagi, beban bunga utang senilai Rp99,8 triliun itu setara 28,8 persen dari total realisasi belanja pemerintah pusat per Februari 2026 sebesar Rp346,1 triliun. Angka ini jauh melampaui realisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru menyerap Rp44 triliun per 9 Maret 2026, maupun belanja subsidi dan kompensasi yang hanya mencapai Rp51,5 triliun.

Rupiah Diprediksi Masih Volatile

Dengan kombinasi tekanan eksternal yang belum mereda dan tantangan fiskal domestik yang terus membayangi, analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan berikutnya. Rupiah berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.890–Rp16.920 per dolar AS.

Pergerakan harga minyak dan hasil rilis data PCE Amerika Serikat akan menjadi dua variabel paling krusial yang menentukan arah rupiah dalam waktu dekat.***

Setyo

Terbaru dari Setyo