Portal Pantura, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Mata uang Garuda menembus level Rp18.066 hingga Rp18.091 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir.
Rupiah Tertekan, Mata Uang Asia Bergerak Variatif
Berdasarkan data yang dihimpun, rupiah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp18.014 per dolar AS. Pelemahan berlanjut memasuki perdagangan Kamis pagi.
Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah bergerak melemah sebesar 52 poin atau terkoreksi 0,29 persen ke level Rp18.066 per dolar AS. Tekanan jual terus berlanjut hingga siang hari, dengan rupiah bertengger di level Rp18.091,70 per dolar AS pada pukul 10.30 WIB.
Sementara itu, pergerakan mata uang di kawasan Asia relatif variatif. Yen Jepang diperdagangkan mendekati level terkuat sejak 1 Juli 2026, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,5 persen dan dolar Australia menguat 0,1 persen terhadap dolar AS.
Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Sentimen eksternal yang paling menekan rupiah datang dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Kabar mengenai serangan baru Amerika Serikat ke wilayah Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak dunia yang paling vital.
Ketegangan semacam ini, menurut catatan pasar, secara historis selalu mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai, karena investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik. Dampaknya bahkan merambat ke pasar saham domestik.
IHSG Ikut Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini turut dibuka melemah 0,52 persen ke level 5.842, sejalan dengan koreksi rupiah. Data lanjutan menunjukkan IHSG turun 0,18 persen ke posisi 5.862,62 pada pukul 10.30 WIB.
Faktor Domestik: Keyakinan Konsumen Melemah
Selain tekanan eksternal, faktor dari dalam negeri turut membebani rupiah. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut menjadi 117,8 pada Juni, level terendah sejak September 2025.
Sentimen negatif lain juga muncul dari pasar modal. S&P Dow Jones Indices dikabarkan memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan untuk potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Meski belum menjadi keputusan final, kabar ini menambah kehati-hatian investor asing terhadap aset-aset Indonesia.
Defisit Anggaran dan Yield Obligasi AS
Dari sisi fiskal, defisit anggaran pada semester I-2026 tercatat mencapai Rp196,5 triliun atau 0,76 persen PDB, mengindikasikan pembiayaan pengeluaran publik yang melebihi penerimaan negara.

