IKLAN
HeadlineHot Issue

Belajar dari Peraih Nobel James A Robinson: Cara Membangun Ekonomi Inklusif di Indonesia

Avatar photo
×

Belajar dari Peraih Nobel James A Robinson: Cara Membangun Ekonomi Inklusif di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR RI Harris Turino foto bersama peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, usai acaradining conversation yang membahas hubungan antara kekuasaan politik, institusi, dan kesejahteraan masyarakat. (Foto: Facebook Harris Turino)
Anggota DPR RI Harris Turino foto bersama peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, usai acaradining conversation yang membahas hubungan antara kekuasaan politik, institusi, dan kesejahteraan masyarakat. (Foto: Facebook Harris Turino)

Portal Pantura – Langkah pembangunan ekonomi nasional tidak sekadar diukur dari tingginya angka pertumbuhan, melainkan dari sejauh mana dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Prinsip dasar ini menjadi fokus pembahasan hangat dalam pertemuan antara Anggota dengan ekonom terkemuka dunia, James A. Robinson bersama undangan lainya.

Dalam agenda dining conversation tersebut, Harris berkesempatan bertukar pikiran secara langsung dengan akademisi Inggris-Amerika penerima Nobel Memorial Prize in Economic Sciences 2024 tersebut. Diskusi mengusung tema mendalam bertajuk “Economic Origins of Dictatorship and Democracy”—sebuah topik yang merujuk pada karya literatur monumental besutan Robinson bersama rekannya, Daron Acemoglu.

IKLAN

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk melihat kembali perjalanan demokrasi dan penataan ekonomi Indonesia melalui kacamata teori institusi yang diakui dunia.

Institusi Inklusif Kunci Utama Kesejahteraan Rakyat

Dalam pemaparannya, Robinson menekankan bahwa keberhasilan suatu bangsa dalam mempertahankan demokrasi dan meraih kemakmuran tidak semata-mata ditentukan oleh kelimpahan sumber daya alam, kondisi geografis, maupun dinamika budaya. Faktor terpenting justru terletak pada kualitas institusi yang mengelola kekuasaan politik dan akses ekonomi.

Robinson membandingkan dua kondisi ekstrem, seperti yang terjadi pada Korea Selatan dan Korea Utara, untuk menunjukkan bagaimana perbedaan tata kelola institusi mampu melahirkan nasib bangsa yang bertolak belakang.

Sistem yang cenderung inklusif akan menjamin kepastian hukum, melindungi hak-hak warga, mendorong persaingan usaha yang sehat, serta membuka keran inovasi. Sebaliknya, institusi yang tertutup memicu konsentrasi kekuasaan pada kelompok tertentu saja.

Relevansi Gagasan Nobelis bagi Masa Depan Indonesia

menilai pemikiran Robinson sangat krusial sebagai bahan refleksi bagi tata kelola berbangsa di Indonesia. Menurutnya, keberadaan pemilu dan lembaga demokratis perlu terus diperkuat agar benar-benar mampu mendistribusikan kesempatan ekonomi secara adil.

Demokrasi yang sehat harus mampu mencegah pemusatan kekuatan pada segelintir pihak, sehingga lembaga publik tetap konsisten menjalankan fungsinya melayani seluruh lapisan masyarakat.

Menjangkau Meja Makan Masyarakat Kecil

Melalui diskusi mendalam ini, Harris menegaskan kembali pentingnya arah pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan riil warga. Diskusi bersama peraih Nobel ini makin memperkuat keyakinannya bahwa indikator keberhasilan ekonomi harus berujung pada peningkatan kualitas hidup rakyat biasa.

“Tantangan utama bagi Indonesia ke depan adalah memastikan bahwa institusi politik dan ekonomi bekerja secara terbuka,” ujar Harris.

Tim Redaksi

Yudhi P
Reporter Yudhi P
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P