Portal Pantura – Indonesia sudah berkali-kali mengganti kurikulum. KTSP, Kurikulum 2013, lalu Kurikulum Merdeka. Guru lelah. Siswa bingung. Banyak yang mempertanyakan: untuk apa?
Ternyata, ada penjelasan ilmiahnya.
Kurikulum Memang Dirancang untuk Berubah
Dalam kajian pendidikan, kurikulum bukan dokumen permanen. Ia adalah sistem dinamis yang harus terus menyesuaikan diri.
Teknologi berubah. Dunia kerja berubah. Generasi siswa pun berubah. Maka kurikulum ikut berubah.
Kemendikbudristek menegaskan hal ini. Pembaruan kurikulum bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyiapkan siswa menghadapi tantangan abad ke-21.
Teori Pendidikan Mendukung Perubahan
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa pembelajaran harus relevan dengan pengalaman dan kebutuhan nyata siswa. Sistem pendidikan yang stagnan justru berbahaya.
Riset dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa kurikulum adaptif mampu meningkatkan relevansi belajar dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Dampak Positif yang Nyata
Perubahan kurikulum bukan tanpa hasil. Kurikulum berbasis proyek, misalnya, terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi siswa.
Hal itu dikonfirmasi oleh penelitian dalam Jurnal Basicedu (Suherman dkk., 2023). Keterampilan semacam ini tidak bisa diasah hanya dengan menghafal.
Tapi Ada Masalah di Lapangan
Di sisi lain, realitas berkata lain.
Tidak semua guru siap menghadapi kurikulum baru. Pelatihan sering datang terlambat atau tidak memadai. Implementasi di kelas pun menjadi kurang optimal.
Kesenjangan antarsekolah juga menjadi soal. Penelitian dalam Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini (Sari & Putra, 2023) mengungkap bahwa sekolah di perkotaan jauh lebih mudah beradaptasi dibanding sekolah di pedesaan.
Fasilitas terbatas membuat perubahan terasa seperti beban, bukan kemajuan.
Solusi atau Masalah? Tergantung Kesiapan
Ini bukan soal setuju atau tidak setuju dengan pergantian kurikulum.
Pergantian kurikulum bisa menjadi solusi sekaligus masalah, tergantung bagaimana prosesnya dijalankan.
Kunci utamanya bukan pada seberapa sering kurikulum berganti. Melainkan pada seberapa siap sistem pendidikan menghadapinya.
Tiga hal yang menentukan keberhasilan: pelatihan guru yang memadai, sosialisasi yang jelas, dan pemerataan fasilitas pendidikan.
Pertanyaan yang Sebenarnya
Pertanyaannya bukan lagi apakah kurikulum perlu diganti.
Pertanyaannya adalah: apakah kita sudah benar-benar siap menjalankannya?
Perubahan dalam pendidikan tidak bisa dihindari. Yang bisa dipilih adalah cara menyambutnya, dengan persiapan matang atau sekadar ikut-ikutan pergantian.***
Tim Redaksi
