Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar dari kalangan petani. Jika harga di pasar masih berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram, mengapa harga di tingkat petani hanya sekitar seperlimanya? Selisih harga yang signifikan ini memunculkan dugaan adanya masalah pada rantai distribusi atau mekanisme pasar yang tidak berpihak pada petani.
Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menjembatani kepentingan petani dan konsumen. Untuk jangka panjang, perlunya sistem distribusi yang lebih adil dan transparan harus menjadi agenda prioritas.
Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga dapat memicu penurunan minat petani untuk menanam cabai di musim tanam berikutnya. Jika tidak segera diatasi, hal ini berpotensi menyebabkan kelangkaan pasokan dan lonjakan harga cabai di masa depan.
Petani-petani di Brebes, yang selama ini menjadi salah satu lumbung cabai nasional, kini menanti langkah nyata dari pemerintah. Bagi mereka, stabilitas harga bukan sekadar angka ekonomi, tapi juga soal kelangsungan hidup.
Apakah pemerintah akan bergerak cepat untuk mengatasi masalah ini? Atau petani cabai kembali harus berjuang sendiri di tengah ketidakpastian pasar?.***
Tim Redaksi
