Ketiga, pelarian modal. Ketidakpastian global mendorong investor keluar dari aset berisiko di negara berkembang. Dana mengalir ke aset safe haven seperti dolar AS, obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan emas.
Cadangan Devisa Besar, Tapi Bukan Jaminan
Indonesia memang mencatat cadangan devisa dalam jumlah besar. Namun, angka besar itu tidak otomatis berarti rupiah aman.
Sebagian besar cadangan devisa merupakan akumulasi dari utang luar negeri. Fungsinya pun bukan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Yang sesungguhnya menentukan nasib rupiah adalah satu hal: apakah aliran dana eksternal terus masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah bergantung pada kemampuan Indonesia untuk terus mengakses pembiayaan dari luar negeri.
Kondisi ini membuat rupiah tetap rentan meski cadangan devisa tampak solid di atas kertas.
Risiko Krisis Jika Respons Terlambat
Pengalaman krisis moneter 1997 menjadi pengingat keras. Ketika rupiah melemah 25–30 persen dalam waktu singkat tanpa respons kebijakan yang tepat dan cepat, krisis valuta yang lebih luas pun tak terhindarkan.
Situasi serupa bisa berulang. Sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia dinilai masih rapuh dan sangat sensitif terhadap guncangan dari luar.
Narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat semata karena cadangan devisa besar, dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sesungguhnya.
Apa yang Perlu Diwaspadai?
Dalam skenario geopolitik yang makin ekstrem, depresiasi rupiah bahkan bisa melampaui 20 persen — dan terjadi lebih cepat dari perkiraan.
Jika posisi rupiah saat ini Rp17.000, pelemahan 20 persen membawa kurs ke Rp20.400 per dolar AS.
Tim Redaksi
