Portal Pantura, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada perdagangan pekan kedua Maret 2026. Sejumlah faktor eksternal maupun internal dinilai menjadi penyebab utama pelemahan mata uang Garuda tersebut.
Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026). Proyeksi ini sejalan dengan tren pelemahan yang sudah terlihat pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), di mana rupiah ditutup melemah 20 poin ke level Rp16.925 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.903.
Sementara itu, kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga terkoreksi sebesar Rp33 atau 0,20 persen menjadi Rp16.919 per dolar AS.
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu Global
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang belum mereda menjadi salah satu faktor pemberat bagi rupiah. Situasi ini mendorong investor global untuk mengalihkan portofolio mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven), salah satunya dolar AS. Meningkatnya permintaan dolar secara otomatis menekan nilai tukar sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memperparah kondisi ini. Harga minyak yang tinggi berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia sekaligus memicu tekanan inflasi di dalam negeri, yang pada akhirnya memperlemah daya tahan rupiah di pasar valuta asing.
Fitch Soroti Pendapatan Negara, Cadangan Devisa Ikut Tergerus
Tekanan dari dalam negeri pun tidak kalah signifikan. Lembaga pemeringkat internasional Fitch memproyeksikan rasio pendapatan negara Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya akan mencapai rata-rata 13,3 persen selama periode 2026–2027. Angka ini jauh di bawah median negara-negara dengan peringkat setara kategori ‘BBB’ yang berada di level 25,5 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan potensi keterbatasan ruang fiskal Indonesia dalam menghadapi guncangan ekonomi.
Selain itu, penurunan cadangan devisa Indonesia turut menjadi sentimen negatif yang menambah tekanan pada pergerakan rupiah. Cadangan devisa yang menyusut mengurangi kapasitas Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Sentimen Global AS Masih Dominan
Memasuki pekan depan, arah pergerakan rupiah dinilai masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya dari rilis data ekonomi Amerika Serikat. Data-data tersebut, termasuk indikator ketenagakerjaan dan inflasi AS, kerap menjadi acuan pelaku pasar dalam menentukan ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Apabila data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang kuat, ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka lebih panjang dapat mendorong penguatan dolar lebih lanjut dan menekan rupiah lebih dalam.
Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi global secara saksama dan mempertimbangkan risiko volatilitas nilai tukar dalam setiap keputusan investasi maupun transaksi bisnis lintas batas.***
***Artikel ini merupakan analisis berdasarkan data pasar dan proyeksi analis. Bukan merupakan rekomendasi investasi.
Tim Redaksi
