“Dalam membangun, tidak boleh parsial dan menang sendiri, tetapi semua komponen harus membangun secara bersama-sama,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting tentang gaya kepemimpinan yang ingin ia terapkan di Jawa Tengah. Luthfi memposisikan dirinya bukan sebagai pemimpin tunggal yang bekerja dalam menara gading, melainkan sebagai koordinator yang mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, swasta, komunitas, hingga warga biasa, untuk bersatu membangun provinsi ini.
Pendekatan kolaboratif ini relevan mengingat kompleksnya tantangan yang dihadapi Jawa Tengah, mulai dari pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas layanan publik yang merata di seluruh wilayah.
Memimpin di Era Disinformasi
Respons Luthfi terhadap hoaks ini menjadi cerminan bagaimana seorang pemimpin daerah harus adaptif menghadapi ekosistem informasi yang berubah drastis. Di era media sosial, kepala daerah tidak hanya dituntut cakap dalam urusan birokrasi, tetapi juga tangguh secara mental dan komunikatif dalam membangun narasi yang benar di tengah publik.
Dengan memilih bersikap terbuka dan tidak defensif, Luthfi setidaknya telah mengirimkan pesan: bahwa pembangunan Jawa Tengah tidak akan terganggu oleh hiruk-pikuk hoaks, dan bahwa pintu kolaborasi tetap terbuka lebar bagi siapa pun yang ingin turut serta membangun daerah ini.***
Tim Redaksi

