TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Dandim 0712 Tegal Luncurkan Buku “Banteng Loreng Melebur” di Monumen GBN Procot

×

Dandim 0712 Tegal Luncurkan Buku “Banteng Loreng Melebur” di Monumen GBN Procot

Sebarkan artikel ini
Dandim 0712 Tegal Luncurkan Buku “Banteng Loreng Melebur” di Monumen GBN Procot
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura– Komandan Kodim (Dandim) 0712/Tegal Letkol Infanteri Suratman resmi meluncurkan buku berjudul Banteng Loreng Melebur.

Peluncura buku tersebut dalam acara yang digelar di Monumen Gerakan Banten Nasional (GBN) Procot, Kecamatan Slawi, Minggu (17/8/2025) malam.

Peluncuran buku ini bertepatan dengan Resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Tegal.

iklan

Hadir dalam acara tersebut Bupati dan Wakil Bupati Tegal, jajaran Forkopimda, Sekda, para asisten daerah, kepala OPD, camat se-Kabupaten Tegal, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Letkol Inf Suratman menjelaskan bahwa ide penulisan buku tersebut telah muncul sejak ia menjabat sebagai Dandim 0712/Tegal. Buku ini terinspirasi dari tiga monumen GBN yang berada di Kecamatan Slawi, Lebaksiu, dan Bumijawa.

“Buku ini kami susun berdasarkan atas penelusuran bersama Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal dan merujuk pada relief yang ada di monumen GBN. Banyak masyarakat yang belum memahami makna dari relief tersebut,” ujarnya.

Ia menyoroti salah satu nilai penting dalam buku itu, yaitu istilah Banteng Loreng Binoncengan, yang menurutnya tidak pernah disebutkan dalam literasi sejarah sebelumnya, termasuk dalam buku Netherland 1841.

Istilah tersebut merujuk pembentukan dua kompi TNI tahun 1950 yang menghadapi gerakan DI/TII dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.

“Setelah DI/TII berhasil ditanggulangi, dibentuklah satu batalyon yang diresmikan di alun-alun Kota Tegal.

Dari situ muncul istilah Banteng Loreng, yang menggambarkan sinergi antara rakyat dan tentara,” jelasnya.

Selain itu, Suratman juga menyinggung kondisi monumen GBN di Bumijawa yang saat ini tertimbun dan berada di belakang ruko.

Ia menyatakan akan bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Bumijawa untuk membangun ulang monumen tersebut.

Terkait penerbitan, Suratman mengatakan bahwa saat ini buku baru dicetak sebanyak 15 eksemplar untuk keperluan peluncuran.

Namun, pihaknya akan menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperbanyak dan mendistribusikannya ke sekolah serta desa dan kelurahan di Kabupaten Tegal.

“Buku ini bukan sekadar cerita rakyat, tapi berdasarkan bukti sejarah di lapangan. Kami buat full colour agar mudah dipahami terutama oleh generasi muda,” ujarnya.

Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran sejarah masyarakat Kabupaten Tegal serta melestarikan nilai-nilai perjuangan lokal yang selama ini kurang dikenal secara luas.

 

Cahyo

Terbaru dari Cahyo