Portal Pantura – Sebuah sudut tenang di Desa Timbangreja, Kecamatan Lebaksiu, biasanya hanya dikenal perkampungan dengan suasana khas pedesaan Jawa tenang, guyub, dan religius terusik.
Di malam Jumat Kliwon lalu, malam bertepatan 1 Suro penanggalan Jawa dan di desa ini berubah jadi panggung duka dan amarah.
Seorang pria sebut, Dul tewas bersimbah darah tak jauh dari rumah seorang perempuan yang selama ini dikabarkan sering ia goda meski kerap ditegur oleh ayah sang wanita.
Akibat ulahnya kerap mengoda wanita yang bukan kekasihnya dan juga telah bersuami tersebut nyawa Dul melayang di tangan seorang pria tua M ayah dari perempuan yang menjadi pusat konflik.
Di desa, desas-desus semacam ini cepat menyebar dan sering kali melukai lebih sekadar reputasi tapi bagi tersangka M gangguan terhadap anak perempuannya bukan hanya sekadar persoalan etika tetapi soal harga diri keluarga.
Dijelaskan dalam konferensi pers pelaku M telah berkali-kali memperingatkan, namun, peringatan berubah menjadi bara ketika Dul tetap datang di malam yang dianggap sakral itu.
Apa yang terjadi malam itu menjadi titik balik dimana kehormatan, kemarahan berpadu menjadi kekerasan.
Tidak sedikit yang percaya malam Suro bukan waktu untuk bertindak sembrono Namun, justru di malam itulah darah tertumpah di Desa Timbangreja.
Konferensi pers yang digelar Polres Tegal pada Senin, 30 Juni 2025, menjadi titik terang, sebab AKBP Bayu Prasatyo Kapolres Tegal, menyatakan bahwa M kini telah ditahan, dan proses hukum kini berjalan.

Tim Redaksi
