TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Doa di Kaki Gunung Slamet, Tradisi Sakral Ruwat Bumi Desa Rembul Tegal

×

Doa di Kaki Gunung Slamet, Tradisi Sakral Ruwat Bumi Desa Rembul Tegal

Sebarkan artikel ini
Doa di Kaki Gunung Slamet, Tradisi Sakral Ruwat Bumi Desa Rembul Tegal
IKLAN
Ukuran teks

PortalPantura- Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan semilir angin dari kaki Gunung Slamet, Desa Rembul kembali menghidupkan denyut adat leluhur melalui Sedekah Bumi sebuah tradisi tahunan yang sarat makna, spiritualitas, dan simbol kebersamaan.

Di Desa Rembul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, denyut tradisi kembali hidup. Dalam suasana yang penuh khidmat dan semangat kebersamaan, masyarakat menggelar Sedekah atau Ruwat Bumi,

Yakni sebuah ritual tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen dan anugerah alam yang terus menghidupi mereka.

iklan

Pagi itu, di tengah hamparan sawah yang menghijau, ratusan warga beriringan dalam prosesi budaya. Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, mereka membawa gunungan hasil bumi tumpukan sayuran, buah-buahan, dan palawija yang dihias artistik.

Iringan gamelan dan tembang-tembang Jawa memperkuat nuansa sakral dihadiri langsung Ibnu Efendi Kepala Desa, anggota Dewan fraksi PDI P dan Haji Pandi serta Ketua Apdesi, Kadin Disporapar dan Forkopimcam Bojong.

Dan Prosesi ini bukan hanya seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada bumi dan leluhur diyakini telah menjaga keseimbangan alam.

Dalam kepercayaan lokal, pemotongan hewan kerbau bule sehari sebelum prosesi Ruwat Bumi dan merupakan suatu bentuk pengorbanan suci, melambangkan keikhlasan dan harapan akan kemakmuran yang terus mengalir.

Yang membuat acara ini semakin berkesan, hadirnya tokoh masyarakat Haji Pandi yang menyaksikan prosesi Ruwat Bumi dan Ia menekankan pentingnya pelestarian tradisi sebagai bagian dari identitas masyarakat Tegal.

“Tradisi ini bukan hanya bagian dari masa lalu, tapi juga investasi budaya untuk masa depan. Kita ingin generasi muda tetap mencintai akar mereka,” ujar Kepala Desa Rembul Ibnu Efendi.

Senin 14 Juli 2025 Warga dari desa-desa tetangga datang berbondong-bondong menuju kawasan Wisata Rembulan lokasi prosesi Ruwat Bumi Desa Rembul Bojong Tegal.

Suasana penuh kegembiraan tercipta. Anak-anak berlarian membawa balon, para ibu menjajakan jajanan tradisional seperti apem, cenil, dan gethuk.

Di sudut balai desa, para sesepuh duduk bersila dalam balutan blangkon dan kain lurik, memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Rembul menjadi panggung bagi pertemuan antara spiritualitas, kekeluargaan, dan kekayaan budaya.

Tradisi Sedekah Bumi tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan alam, tetapi juga memperkuat jalinan sosial. Gotong royong, toleransi, dan nilai kebersamaan terus hidup melalui upacara seperti ini.

Dalam balutan budaya, warga menemukan kembali jati diri dan semangat kolektif yang mungkin mulai tergerus zaman.

Saat senja menjelang, tumpeng hasil bumi pun dibagi kepada warga. Saling berebut namun penuh tawa, mereka percaya bahwa setiap sayur, buah, atau sejumput tanah yang mereka bawa pulang telah diberkahi.

Sedekah Bumi Desa Rembul bukan sekadar perayaan. Tetapi justru Ia adalah cermin dari cara masyarakat di wilayah Kecamatan Bojong menjaga keseimbangan antara tradisi, alam, dan kehidupan modern.***

 

Cahyo

Terbaru dari Cahyo