“Kalau biasanya hanya dapat Rp1,5 juta di akhir pekan, saat FGS bisa tembus Rp3,5 juta per hari,” ungkapnya.
Komitmen Pemerintah: FGS Jadi Agenda Tahunan Unggulan
Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, menyatakan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan FGS.
“Kami akan terus mendukung hingga FGS ke-9, ke-10, dan seterusnya. Serang akan kita jadikan destinasi unggulan seperti Batu di Malang,” ucapnya saat pembukaan.
Dimas juga menekankan bahwa FGS bukan hanya ajang pariwisata, tetapi juga ruang pelestarian budaya lokal. Festival ini dianggap telah menjadi identitas budaya Purbalingga yang harus dijaga.
Pertunjukan Budaya Memukau Pengunjung
Acara pembukaan FGS 2025 dimeriahkan dengan pertunjukan seni dari berbagai desa wisata. Tarian Sikopyah dari Desa Serang, Baladewa dari Gunung Wuled, hingga Gejog Lesung dari Desa Onje, tampil memukau.
Kehadiran seni tradisional ini memberikan warna tersendiri bagi pengunjung yang datang, menjadikan FGS bukan hanya sekadar festival, melainkan panggung budaya yang mengedukasi sekaligus menghibur.
Kolaborasi untuk Pariwisata Berkelanjutan
FGS ke-8 merupakan contoh nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku wisata. Dengan dukungan semua pihak, festival ini menjadi ruang pemberdayaan ekonomi kreatif serta ajang promosi wisata yang berkelanjutan.
Purbalingga membuktikan bahwa kekuatan lokal bisa menjangkau pasar nasional dan internasional melalui pendekatan kreatif dan inklusif.***
Tim Redaksi
