Salah satu hasil penting dari Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Haidar Alwi menilai bahwa ibadah ini bukan sekadar kewajiban, tetapi juga memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan hidup.
“Shalat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan merenungkan tujuan hidup. Ini adalah cara untuk terus memperbaiki diri dan menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan kehidupan duniawi,” tambahnya.
Haidar Alwi percaya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Isra Mi’raj dapat menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih baik, terutama di Indonesia yang memiliki keberagaman budaya, agama, dan suku.
“Kita bisa belajar dari semangat persatuan yang terkandung dalam peristiwa ini. Mulai dari bagaimana kita bersikap lebih toleran hingga menjaga hubungan yang baik dengan sesama,” katanya.
Dalam peringatan Isra Mi’raj 27 Rajab 1446 Hijriah yang jatuh pada Senin, 27 Januari 2025, Haidar Alwi mengajak seluruh masyarakat untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini guna memperkuat keimanan, menjaga persatuan, dan meningkatkan kualitas hidup.
“Isra Mi’raj adalah simbol perjalanan manusia menuju pencerahan spiritual dan kehidupan yang lebih bermakna,” pungkasnya.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritualnya. Dengan menjadikan nilai-nilai Isra Mi’raj sebagai pedoman, diharapkan masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis, adil, dan penuh makna.***
Tim Redaksi
