Portal Pantura – Mata Ibu Endang Wuryati berkaca-kaca saat melihat rumah yang telah ia tinggali bertahun-tahun mulai dibongkar.
Bukan karena kehilangan, tetapi karena rasa haru, akhirnya, harapan untuk segera memiliki tempat tinggal yang layak mulai menjadi nyata.
Di bawah terik matahari Desa Pedagangan, Minggu (7/8/2025), suasana penuh kehangatan menyelimuti proses pembongkaran rumah milik perempuan paruh baya tersebut.
Personel Polsek Dukuhwaru, perangkat desa, relawan, dan warga sekitar bahu-membahu, memindahkan genting demi genting, papan demi papan, bukan sekadar merobohkan bangunan lama tetapi untuk membangun kembali kehidupan.
Rumah itu sudah lama tidak layak huni. Dinding yang rapuh, atap bocor, dan lantai tanah menjadi saksi bisu perjuangan Ibu Endang selama ini.
Keterbatasan finansial membuatnya hanya bisa pasrah, dan akhirnya kabar baik datang melalui Bhabinkamtibmas Desa Pedagangan yang melaporkan kondisi ini ke Polsek Dukuhwaru.
“Kami ingin Polri hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian solusi sosial di tengah masyarakat,” ujar Ipda Wawan Prasetyo, Plt. Kapolsek Dukuhwaru, saat ditemui pada Selasa (12/8).
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program bakti sosial dan kepedulian Polri terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Tak butuh waktu lama, koordinasi dilakukan dengan Pemerintah Desa dan Baznas Kabupaten Tegal.
Semua pihak sepakat rumah Ibu Endang harus dibangun kembali. Namun lebih dari itu, dibangun rasa kebersamaan dan solidaritas yang mulai tergerus zaman.
Kepala Desa Pedagangan, Wiharso, mengaku tersentuh dengan keterlibatan semua pihak.
“Sinergi ini membuktikan bahwa ketika aparat, pemerintah, dan warga bersatu, tak ada yang mustahil. Ini bukan hanya tentang rumah, tapi tentang harapan,” katanya.
Setelah dibongkar, rumah Ibu Endang dibangun kembali dengan dukungan program bantuan sosial. Sebuah hunian sederhana namun layak, yang akan menjadi simbol baru kehidupan yang lebih baik.
Saat genting terakhir diturunkan dan debu mengambang di udara, Ibu Endang tak kuasa menahan air mata.
“Saya tidak pernah menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini. Terima kasih kepada semua yang sudah peduli,” ucapnya lirih.
Kini, di antara puing-puing rumah lamanya, tumbuh harapan. Sebuah awal baru. Dan di tengahnya, berdiri Ibu Endang, tidak lagi sendiri.***
Tim Redaksi
