TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Jembatan Amblas, Tiga RT di Desa Adisana Terisolasi Warga Hadapi Krisis Air Bersih dan Pemadaman Listrik Total

×

Jembatan Amblas, Tiga RT di Desa Adisana Terisolasi Warga Hadapi Krisis Air Bersih dan Pemadaman Listrik Total

Sebarkan artikel ini
IKLAN
Ukuran teks

Portal pantura, – Tiga Rukun Tetangga (RT 01, 02, dan 03 / RW 01) di Desa , Kecamatan , Kabupaten , mendadak terisolasi setelah Jembatan Badrun, satu-satunya akses penghubung wilayah tersebut, amblas pada Selasa (4/2/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Peristiwa ini berdampak langsung pada lebih dari seratus kepala keluarga yang kini kesulitan beraktivitas, di tengah krisis air bersih dan pemadaman listrik total.

Jembatan Badrun yang membentang di atas aliran Kali Jero selama ini menjadi jalur utama keluar-masuk warga, baik untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, maupun layanan kesehatan. Amblasnya jembatan membuat akses kendaraan roda dua dan roda empat terputus sepenuhnya. Hingga Selasa malam, belum ada jalur alternatif yang dapat digunakan warga.

Menurut keterangan Lukman, Warga RT 02 Desa , amblasnya jembatan terjadi secara tiba-tiba. Warga sempat mendengar suara gemuruh keras disertai retakan besar sebelum badan jembatan runtuh ke aliran sungai.

iklan

“Awalnya terdengar suara seperti tanah bergeser, lalu jembatan retak dan amblas. Kejadiannya cepat, sekitar magrib,” ujar Lukman saat ditemui di lokasi kejadian.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun dampak sosial yang ditimbulkan cukup besar. Warga mengaku terisolasi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, terutama air bersih.

“Kami benar-benar terisolasi. Tidak bisa belanja kebutuhan pokok, tidak bisa mengantar anak sekolah. Yang paling mengkhawatirkan adalah air bersih,” kata Umam (47), warga RT 03, dengan nada cemas.

Krisis air bersih di wilayah ini sejatinya telah terjadi sejak sehari sebelumnya. Sumber air utama warga berupa Tempat Umum Pengambilan Air (TUK) atau mata air di Kali Reong hancur akibat diterjang bandang beberapa hari lalu. TUK tersebut selama ini menjadi satu-satunya sumber air bersih gratis bagi masyarakat setempat.

“Biasanya kami antre ambil air di TUK Kali Reong. Sekarang sudah habis diterjang . Sejak kemarin kami mengandalkan air hujan, atau membeli air galon bagi yang mampu. Setelah jembatan amblas, kami benar-benar tidak punya pilihan,” ungkap Umi (35), warga RT 01.

Kondisi warga semakin memprihatinkan ketika pada pukul 20.30 WIB, aliran listrik di ketiga RT tersebut padam total. Hingga malam hari, listrik belum kembali menyala. Desa pun diliputi kegelapan, hanya diterangi cahaya senter dan lilin milik warga.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki anggota keluarga sakit. Selain keterbatasan penerangan, pemadaman listrik juga berdampak pada komunikasi dan akses informasi warga.

Hendri Yetus, Dari Aliansi Pemuda , menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang dialami warga. Ia mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan.

“Ini kondisi darurat. Warga tidak hanya terisolasi secara fisik, tetapi juga kehilangan akses air bersih dan listrik. Kami berharap ada respons cepat, baik penanganan darurat jembatan, suplai air bersih, maupun pemulihan listrik,” tegas Hendri.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan dengan segala keterbatasan. Mereka berharap bantuan segera datang dan pemerintah dapat memberikan solusi cepat agar aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Jembatan Badrun, bagi warga , bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan yang kini terputus.***

Imam Muzaki

Terbaru dari Imam Muzaki