Portal Pantura – Malam itu, di sebuah gang kecil di Desa Mejasem Timur, Kramat, Tegal, cahaya lampu temaram menyinari halaman rumah sederhana yang berubah menjadi panggung sastra.
Suara puisi bersahutan, namun bukan dalam bahasa Indonesia yang baku. Yang menggema adalah dialek penuh irama jalanan: Prokem Tegalan.
Pagelaran bertajuk “TELIK PROKEM MAPAG 1000 Tahun Khairil Anwar”, Jumat, 25 Juli 2025, bukan sekadar perhelatan sastra di Kabupaten atau Kota Tegal.
Tapi ini adalah bentuk perlawanan sunyi, tapi tajam dari sebuah komunitas kecil bernama Komunitas Prokem Tegalan, yang menolak budaya daerah mati pelan-pelan digilas zaman.
Sudah keempat kalinya komunitas ini menggelar acara semacam ini. Namun tahun ini terasa istimewa, karena mereka “memapag” atau menyambut secara simbolis seribu tahun sang penyair legendaris Chairil Anwar,
Meski baru satu abad lebih sejak Chairil lahir. Tentu saja ini bukan perkara angka. Ini perkara semangat.
“Khairil Anwar simbol pemberontakan, keberanian bersuara, keberanian menjadi berbeda. Dan itu juga yang kami bawa di Prokem Tegalan,” ujar Ipuk Nm Nur, motor penggerak acara ini.
Acara ini tak hanya menghadirkan penyair dari Tegal, tapi juga dari berbagai kota seperti Semarang dan Purwodadi Jawa Tengah.
Nama-nama seperti Eko Tunas, Lutfi AN, Jumadi, Wahyu Ranggati, dan Iwang Nirwana mengisi panggung. Namun yang membedakan mereka bukan sekadar puisi yang dibaca.
Melainkan bahasa yang digunakan sebuah bahasa campuran antara dialek Tegal, bahasa jalanan, dan gaya tutur khas anak muda zaman dulu.
Prokem Tegalan, begitulah mereka kerap menyebutnya, adalah bahasa rakyat. Lahir di jalanan, di pasar, di terminal, di warung kopi, namun menyimpan kedalaman kultural yang luar biasa.
Dan seperti semua budaya rakyat, ia rentan punah karena dianggap tak penting, tak baku, tak layak tampil di panggung resmi.
“Kami ingin Prokem ini punya panggung. Kami ingin orang tahu bahwa bahasa ini juga punya nyawa, punya cerita, punya estetika,” jelas Ipuk.
Malam itu, tak ada batas antara penonton dan penyair. Semua larut dalam suasana yang intim dan egaliter. Puisi-puisi dibacakan dengan lantang.
Terkadang diselingi tawa dan celetukan khas Tegal, membuat suasana seperti kumpulan sahabat sedang bernostalgia, bukan acara formal.
Namun di balik tawa itu, tersimpan harapan yang dalam bahwa bahasa ini dan budaya mengiringinya, tidak akan menghilang. Bahwa ada generasi muda yang masih mau duduk, mendengar, dan bahkan menulis puisi dalam bahasa ibunya sendiri.
“Kalau kami diam, Prokem bisa hilang. Dan kalau bahasa hilang, identitas juga ikut hilang,” kata Ipuk pelan, nyaris seperti bisikan.
Di tengah dunia yang makin seragam, suara-suara kecil seperti Prokem Tegalan terdengar asing. Tapi justru karena asing, ia layak didengar. Karena dari sanalah lahir semangat untuk merawat akar, agar pohon kebudayaan tak roboh.
Di sebuah gang kecil, di tengah nyanyian puisi yang tak biasa, Dan Chairil mungkin akan tersenyum melihat semangat untuk memberontak lewat kata masih menyala. Meski dalam dialek yang tak pernah ia tulis dengan lantang.***

