Portal Pantura – Pagi itu, langit Guci cerah, angin Gunung Slamet berhembus lembut. Namun, bagi dua relawan itu lingkungan keheningan pada 10 Mei 2025 tersebut menyimpan badai yang tak terduga.
Sebut A dan B dua relawan yang telah mengkisahkan dirinya pada penulis dan berharap lingkungan hutan ini kembali ceria dan musibah pun tak lagi datang karena rusaknya hutan.
Diceritakan, Berangkat dari Bumijawa pukul sembilan pagi, A dan B melangkah dengan misi sederhana namun krusial, memantau kondisi Hutan Lindung Petak 48 Guci, Dukuh Sawangan, Kecamatan Bumijawa.
Tugas yang telah berkali-kali mereka lakukan ini jadi bagian dari komitmen menjaga paru-paru terakhir Kabupaten Tegal, kini semakin sarat ancaman.
Hanya setengah jam setelah berangkat, keduanya tiba di batas hutan. Tapi yang mereka saksikan langsung menyentak. Puluhan warga tampak sibuk mengolah lahan ibu-ibu, bapak-bapak.
Bahkan ada juga anak muda memanen mencangkul tanah yang seharusnya tak tersentuh cangkul.
Kawasan yang semestinya ditutup sejak akhir 2023 kini telah kembali menjadi ladang kentang.
Tapi Dua Relawan ini justru tidak serta merta menuduh. Mereka berjalan lebih dalam, mendekati seorang warga yang tengah membuat bedengan.
Dengan nada ramah, mereka bertanya sudah berapa lama lahan itu digarap. “Baru dua hari ini,” jawab si warga, tanpa merasa bersalah.
Saat melanjutkan perjalanan ke arah Tanggeman, keduanya menyadari ada yang mengawasi gerak geriknya.
Tim Redaksi
