TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Warga Padasari Siap Bangkit, 456 Huntara Dikebut

×

Warga Padasari Siap Bangkit, 456 Huntara Dikebut

Sebarkan artikel ini
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – Langit mungkin belum sepenuhnya cerah sejak tanah bergerak mengguncang desa itu awal Februari lalu.

Retakan tanah masih terlihat, rumah rumah banyak yang rusak, dan ribuan warga harus mengungsi. Tapi di balik situasi sulit itu, semangat untuk bangkit pelan-pelan mulai terasa.

Pemerintah Kabupaten Tegal bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung tancap gas mempercepat pembangunan hunian sementara () untuk warga terdampak di Desa , Kecamatan Jatinegara.

iklan

Total ada 456 unit yang dibangun pada tahap pertama. Targetnya? Rampung sebelum . Jadi, warga bisa menjalani Ramadan dengan tempat tinggal yang lebih layak dan aman.

Saat ini sekitar 2.700 warga masih tinggal di pengungsian. Pemerintah memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, sampai sekolah darurat tetap tersedia.

Bahkan, lima lansia dipindahkan ke rumah dinas bupati agar lebih nyaman dan dekat fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data sementara, sekitar 900 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda-beda. Dua pondok pesantren, fasilitas pendidikan, hingga jalan-jalan desa pun ikut terdampak.

Meski begitu, suasana di posko tak melulu soal kesedihan. Anak-anak tetap belajar di kelas darurat. Warga saling menguatkan. Gotong royong terasa makin nyata.

Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyebut, dari total kebutuhan 900 unit , tahap awal difokuskan pada 456 unit. Sisanya masih menunggu hasil kajian tim geologi UGM untuk memastikan lokasi aman dari risiko pergerakan tanah susulan.

Lahan seluas 4,7 hektare sudah direkomendasikan untuk pembangunan awal, meski konturnya berbukit. Alternatif lain juga disiapkan di Kalisapu, Slawi, sekitar 12–13 kilometer dari lokasi terdampak.

Pendataan penerima dilakukan ekstra hati-hati. Tujuannya jelas: adil dan tidak menimbulkan konflik sosial.

Kepala BNPB RI Suharyanto mengingatkan, hanyalah solusi sementara. Langkah berikutnya adalah hunian tetap (Huntap).

Skemanya sederhana tapi butuh kerja cepat: pemerintah daerah menyiapkan lahan, pemerintah pusat membangun. Koordinasi dengan Badan Geologi juga terus dilakukan untuk memastikan lokasi relokasi benar-benar aman.

Selain rumah, rencana rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur juga disiapkan. Sekolah, pondok pesantren, jalan, hingga jembatan masuk dalam daftar prioritas.

Bencana tanah bergerak bukan pertama kali terjadi di wilayah ini. Catatan kejadian serupa ada pada 1986, 2022, dan 2024. Artinya, warga sudah pernah melewati masa sulit dan berhasil bangkit.

Kini, dengan alat berat yang sudah bekerja meratakan lahan dan modul yang segera dipasang, harapan itu terasa makin nyata.***

 

Cahyo

Terbaru dari Cahyo