Portal Pantura, Brebes – Ratusan siswa SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu diajak menyelami dunia farmasi modern, lengkap dengan teknologi kecerdasan buatan untuk penemuan obat. Kegiatan ini membuka wawasan bahwa pelajaran Kimia dan Biologi di kelas ternyata punya jalan panjang menuju laboratorium penemuan obat masa depan.
Ketika Pelajaran Sekolah Bertemu Dunia Farmasi
Sebanyak 150 siswa kelas XII SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu, Kabupaten Brebes, mengikuti program edukasi farmasi dari Universitas Peradaban. Kegiatan digelar Minggu (2/8/2026), dalam bentuk Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Edukasi Farmasi Integratif dan Kimia Farmasi Komputasi.
Program ini tak sekadar mengenalkan Program Studi S1 Farmasi. Tim dosen membawa pesan lebih luas, yakni keterkaitan mata pelajaran sekolah dengan perkembangan sains dan teknologi kesehatan.
Farmasi, Ilmu Multidisiplin yang Sering Disalahpahami
Selama ini farmasi kerap dipahami sederhana sebagai ilmu tentang obat dan identik dengan profesi apoteker. Padahal, farmasi merupakan bidang yang mempertemukan Kimia, Biologi, Fisika, Matematika, Informatika, dan ilmu kesehatan.
Kimia berperan memahami struktur molekul obat, sementara Biologi menjelaskan mekanisme penyakit di tingkat sel. Fisika, Matematika, dan Informatika kemudian membantu ilmuwan mengolah data lewat teknologi komputasi.
Ketua Program Studi S1 Farmasi Universitas Peradaban, Syaiful Prayogi, M.Farm., apt., menyampaikan tujuan kegiatan ini kepada siswa.
“Kami ingin siswa melihat bahwa pelajaran yang mereka pelajari sekarang bukan sekadar untuk mendapatkan nilai,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelajaran-pelajaran itu bisa menjadi fondasi untuk mempelajari farmasi hingga berkontribusi dalam penemuan obat di masa depan.
Mengenal Computational Drug Discovery Lewat Analogi Sederhana
Siswa diperkenalkan pada beberapa pendekatan Computational Drug Discovery, seperti molecular docking, virtual screening, ADMET, dan machine learning. Molecular docking dijelaskan lewat analogi mencocokkan kunci dengan gembok.
Komputer digunakan untuk memprediksi interaksi molekul kandidat obat dengan protein target. Sementara virtual screening membantu peneliti menyaring kandidat molekul dalam jumlah besar secara lebih efisien.
Tim Redaksi

