Portal Pantura – Sebuah robot setinggi 2,3 meter berdiri kokoh di tengah area kampus Universitas Harkat Negeri (UHN), Tegal.
Dengan desain futuristik namun berbalut nuansa budaya Jawa, instalasi itu sukses menyedot perhatian ratusan pengunjung, termasuk dua tokoh nasional Sudirman Said dan Najwa Shihab.
Tapi siapa sangka, robot mengagumkan itu bukan buatan pabrik atau hasil proyek teknologi canggih, melainkan karya tangan seorang seniman lokal dari desa kecil di Tegal.
Sebut, Umar Mustofa (36), pria sederhana asal Desa Harjawinangun, Balapulang, Kabupaten Tegal. Dari balik kacamata dan sapaan hangatnya, siapa pun tak akan menduga bahwa ia adalah otak di balik “Gatotkaca”.
Robot Gatot Kaca ini unik pasalnya hanya berbahan limbah besi dan elektronik yang kini mencuri perhatian dunia seni kontemporer.
“Saya ingin menunjukkan bahwa limbah pun bisa bercerita, bisa hidup kembali lewat budaya,” ujar Umar dengan mata berbinar.
Proses pembuatan menurutnya bahwa robot Gatotkaca memakan waktu sekitar satu setengah bulan.
Umar bekerja tanpa tim besar, hanya dengan alat seadanya di bengkelnya yang berada di belakang rumah.
Ia mengumpulkan besi tua, motherboard bekas, bahkan potongan mesin cuci rusak. Tapi dari limbah-limbah itu, lahirlah karya yang tak hanya berdimensi besar—tapi juga punya nilai budaya dan narasi kuat.
Gatotkaca dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai sosok pahlawan dalam kisah Mahabharata yang rela berkorban demi melindungi Arjuna dan kebenaran, Umar melihat simbol yang dalam di baliknya.
“Gatotkaca adalah tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian menghadapi kekuatan besar. Nilai-nilai itu yang saya bawa ke instalasi ini,” ungkapnya.
Robot Gatotkaca dipamerkan dalam acara pelantikan Sudirman Said sebagai Rektor UHN Tegal pada 9 Agustus 2025, sekaligus momen peresmian universitas hasil dari penggabungan Politeknik Harapan Bersama dan STMIK YMI.
Tak hanya robot yang jadi sorotan. Acara ini juga dimeriahkan dengan pameran karya mahasiswa, booth UMKM, serta kuliah umum oleh jurnalis dan aktivis pendidikan Najwa Shihab, yang mengangkat tema Shaping Future Leader.
Sudirman dan Najwa sempat berkeliling melihat karya-karya yang dipamerkan, dan berhenti cukup lama di depan robot Gatotkaca. Dalam momen itu, terlihat jelas kekaguman sekaligus harapan bahwa seni dan teknologi bisa berjalan beriringan.
“Talenta seperti ini layak diberi ruang di universitas. Karena di sinilah peradaban dibangun,” ujar Sudirman dalam pidatonya.
Instalasi Gatotkaca bukan karya pertama Umar yang menembus dunia. Karyanya telah dipamerkan di galeri seni di Australia dan Jerman.
Namun tampil di kampus yang baru berdiri, dengan filosofi “Harkat” (gerakan menuju kemuliaan), memberinya makna tersendiri.
UHN sendiri berdiri dengan visi besar: membangun peradaban lewat pendidikan terapan yang berpihak pada rakyat.
Dengan 4 program studi di Fakultas Sains dan Teknologi, kampus ini berharap bisa mencetak lulusan dengan kompetensi global namun berpijak pada nilai-nilai lokal.
Instalasi Gatotkaca bukan sekadar pertunjukan visual. Ia adalah pertemuan antara limbah dan nilai, antara lokal dan global, antara masa lalu dan masa depan. Di tangan Umar Mustofa, limbah menjadi legenda.
Dan di Universitas Harkat Negeri di Kota Tegal akan menjadi barometer pendidikan menjadi gerakan bagi generasi selanjutnya di wialayah Jawa Tengah.***

