TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ragam Informasi

Gunung Slamet Menuju Zero Waste, Dari Jejak Pendaki hingga Jejak Perubahan

×

Gunung Slamet Menuju Zero Waste, Dari Jejak Pendaki hingga Jejak Perubahan

Sebarkan artikel ini
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – Di lereng Gunung Slamet yang sejuk dan diselimuti kabut tipis ada ratusan tenda berdiri rapi di sebuah area perkemahan di Guci, Tegal.

Suara gemerisik dedaunan yang berpadu dengan obrolan hangat para peserta Zero Waste Adventure Camp (ZWAC) 2025, sebuah perhelatan tiga hari membawa misi besar selamatkan gunung dari tumpukan sampah.

Bagi mahasiswi asal Wonosobo, ini bukan sekadar kemah biasa. “Saya suka mendaki. Tapi di beberapa gunung, sampah berserakan bikin sedih,” ujarnya lirih sambil merapikan ulang tas carrier-nya yang kini lebih ringan.

iklan

Bukan karena isinya lebih sedikit, tetapi karena dikemas ulang dengan teknik packing ramah lingkungan yang baru ia pelajari di sini.

ZWAC bukan hanya tentang tenda dan tracking. Di balik keringat para peserta, ada semangat besar untuk mengubah pola pikir.

Bahwa pendakian yang bersih, serta minim sampah, dan bertanggung jawab bukanlah utopia.

Ide besar ini berawal dari seorang wanita bernama Siska Nirmala, yang sejak 2012 telah menyuarakan gaya hidup minim sampah di alam terbuka.

“Kalau kita selama ini bisa membawa semua perlengkapan ke puncak, kenapa tidak bisa membawa turun kembali sampah kita sendiri?” ujarnya.

Deputi KLH, Ade Palguna Ruteka, hadir membuka kegiatan dan membawa kabar baik: KLH mendukung penuh rencana pembentukan Taman Nasional Gunung Slamet seluas 30,9 ribu hektare.

“Gunung Slamet bisa menjadi role model destinasi pendakian tanpa sampah di Indonesia. Zero waste adventure is possible,” katanya tegas dari atas panggung kecil yang dikelilingi nyala lampu tenda dan semangat muda yang membara.

Rencana menjadikan Slamet sebagai taman nasional tak sekadar soal status hukum. Ini soal menyelamatkan sisa-sisa hutan lindung yang kini terancam oleh konversi ilegal menjadi kebun kentang.

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, mengungkapkan para petani yang dulu membuka lahan secara ilegal kini sudah bersedia menghentikan aktivitas mereka.

“Kita akan pantau dan pastikan kesepakatan ini berjalan,” ujarnya dilansir dari siaran resmi humas Pemkab Tegal

Transformasi Slamet dari gunung yang padat pendaki menjadi zona konservasi yang bersih bukan pekerjaan semalam. Tapi inisiatif seperti ZWAC memberi harapan.

Di sela-sela pelatihan, peserta belajar manajemen sampah, etika pendakian, dan pemilahan sampah di alam terbuka.

Bahkan, para pendaki nasional dijadikan influencer, memanfaatkan jejaring sosial untuk menggaungkan gaya hidup minim sampah.

Malam itu, di tengah semilir angin lereng Slamet, Ulfa menuliskan sesuatu di buku catatannya “Gunung bukan tempat buang sampah. Gunung adalah guru.”

Ia baru sadar, bahwa mencintai alam bukan hanya soal mendaki dan menaklukkan puncak, tapi menjaga jejak yang ditinggalkan tetap bersih.

Dari lereng Guci, sebuah revolusi kecil sedang dimulai. Mungkin tidak langsung mengubah dunia.

Tapi dari langkah kaki para pendaki muda inilah, harapan itu lahir bahwa petualangan tanpa sampah bukan sekadar mimpi.***

 

Cahyo

Terbaru dari Cahyo