TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Ragam Informasi

Malam 1 Suro 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan 8 Mitos yang Masih Dipercaya

×

Malam 1 Suro 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan 8 Mitos yang Masih Dipercaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bulan. (Foto: Pexels/Deepak Ramesha)
Ilustrasi bulan. (Foto: Pexels/Deepak Ramesha)
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – Malam 1 kembali dinantikan masyarakat Jawa. Momen ini bukan sekadar pergantian tahun dalam Jawa, tetapi juga menjadi waktu sakral yang sarat tradisi, doa, dan pantangan turun-temurun.

Lalu, malam 1 2026 jatuh pada tanggal berapa? Berikut jadwal lengkap beserta 8 mitos yang masih dipercaya hingga kini.

Kapan Malam 1 Suro 2026?

iklan

Berdasarkan Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, tanggal 1 Suro 1960 Jawa jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.

Namun, dalam tradisi Jawa, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam. Karena itu, malam 1 Suro dimulai lebih awal, yaitu pada Selasa malam, 16 Juni 2026, setelah waktu Magrib.

Perlu dicatat, tahun ini 1 Suro dan 1 Muharram tidak jatuh pada hari yang sama. Berdasarkan Kemenag, 1 Muharram 1448 H jatuh pada 16 Juni 2026, sementara 1 Suro 1960 Jawa baru dimulai pada 17 Juni 2026, sehingga terdapat selisih satu hari di antara keduanya.

Apa Itu Malam 1 Suro?

Kata “Suro” berasal dari bahasa Arab Asyura, yang merujuk pada tanggal 10 Muharram dalam Hijriah. Keistimewaan hari Asyura dalam Islam membuat masyarakat Jawa mengenal bulan Muharram dengan sebutan bulan Suro, yang kemudian ditetapkan sebagai bulan pertama dalam Jawa.

Sistem Jawa ini merupakan hasil inovasi Sultan Agung dari Mataram, yang menggabungkan Saka Hindu dengan Hijriah Islam demi menyatukan masyarakat Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro bukan sekadar pergantian tahun. Ini adalah waktu untuk introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menjaga ketenangan batin. Sebagian masyarakat pun menghindari pesta atau perayaan besar selama bulan ini.

Tradisi Malam 1 Suro

Berbagai tradisi masih dilestarikan untuk menyambut malam 1 Suro. Di Keraton Yogyakarta, rangkaian dimulai dengan Jamasan Pusaka, yaitu ritual membersihkan benda-benda keraton seperti keris, kereta, dan gamelan.

Setelahnya, digelar Mubeng Beteng atau berjalan mengelilingi keraton sejauh sekitar 4 kilometer tanpa alas kaki dan tanpa berbicara. Tradisi ini dikenal sebagai Tapa Bisu, simbol perenungan dan pengendalian diri.

Di berbagai daerah, masyarakat juga menggelar doa bersama, tirakatan semalam suntuk, pengajian, ziarah makam leluhur, hingga kirab budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.

8 Mitos Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya

Malam 1 Suro identik dengan sejumlah pantangan yang diwariskan turun-temurun. Berikut delapan mitos yang masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa.

1. Dilarang Keluar Rumah

Masyarakat di sejumlah daerah meyakini bahwa keluar rumah tanpa keperluan penting pada malam 1 Suro bisa mendatangkan kesialan. Banyak yang memilih menghabiskan malam ini dengan berdoa dan berkumpul bersama keluarga.

2. Dilarang Berisik

Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu untuk merenung dalam keheningan. Pantangan ini tercermin dalam tradisi Tapa Bisu, di mana peserta berjalan mengelilingi keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

3. Menjaga Lisan

Ucapan kasar, menyakiti, atau penuh amarah dihindari selama malam 1 Suro. Masyarakat Jawa percaya ucapan buruk akan berbalik dampak negatifnya kepada diri sendiri.

4. Dilarang Pindah atau Membangun Rumah

Pindah rumah atau memulai pembangunan di malam 1 Suro dipercaya membawa kesialan. Sebagian masyarakat memilih menunda rencana ini hingga bulan berikutnya.

5. Hindari Konflik dan Pertengkaran

Bulan Suro adalah waktu introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Pertengkaran dianggap mengurangi makna spiritual bulan ini, sehingga banyak orang berupaya menciptakan suasana damai di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

6. Menjauhi Hal Duniawi

Aktivitas hiburan dan kesenangan duniawi dianggap kurang sesuai dengan nilai sakral bulan Suro. Sebagian masyarakat memilih memperbanyak ibadah, puasa, dan doa selama bulan ini.

7. Dilarang Bepergian Jauh

Perjalanan jauh pada malam atau bulan Suro dipercaya lebih berisiko mengalami hambatan atau kecelakaan. Kepercayaan ini berkembang dari tradisi lisan dan masih dipegang sebagian kalangan hingga kini.

8. Dilarang Menggelar Hajatan

Mitos paling dikenal adalah larangan mengadakan pesta besar seperti pernikahan atau khitanan selama bulan Suro. Masyarakat Jawa meyakini hajatan di bulan yang dianggap keramat ini berpotensi mendatangkan musibah bagi keluarga yang mengadakannya.***

Nur Cinta

Terbaru dari Nur Cinta