Portal Pantura- Kabut pagi menyelimuti hutan lereng Gunung Slamet, menyapa langkah-langkah muda yang berjalan pelan namun pasti.
Gerimis turun perlahan, seperti berkah dari langit yang sedang menyaksikan harapan ditanamkan ke dalam bumi.
Di jalur pendakian via Guci, tempat yang kini dikenal wilayah Permadi Jungle dan para pemuda dari komunitas Permadi Guci Tegal memanggul bibit kehidupan pohon pohon langka nyaris terlupakan.
Hari itu, mereka tak sekadar menanam pohon. Mereka menanam janji. Janji kepada tanah yang selama ini menjadi rumah, penghidupan, dan tempat untuk kembali.
Ahmad Hidayatulloh, Ketua Basecamp Permadi Via Guci, menyebut konservasi ini sebagai bentuk cinta kepada alam yang telah memberi tanpa pamrih.
“Kami ingin memberikan kembali kepada alam, lewat konservasi pohon langka dan perlindungan mata air,” katanya sambil menatap barisan pohon muda yang baru saja berdiri di tanah yang basah oleh hujan dan peluh.
Bersama rekan-rekan komunitasnya, Ahmad tidak bekerja sendiri. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak.
Diantaranya Perhutani KPH Pekalongan Barat BKSDA Jawa Tengah, Perhutani, PT Palawi Risorsis, hingga porter pendaki pemilik homestay, dan jasa ojek gunung.
Sebuah jejaring gotong royong yang telah menjadikan konservasi sebagai gerakan bersama.
Di antara puluhan bibit yang ditanam, ada satu pohon yang menyita perhatian yakni tanaman yang sangat langka yaitu Sarangan Sarinten.
Sarangan Sarinten ini pohon ini masuk dalam daftar 12 tanaman langka, kini menjadi simbol gerakan pelestarian ini.
Selain Sarinten, ada juga pohon-pohon langka lain seperti Tengsek, Nagasari, Cokrogeni, Bodhi, Gondang dan lainnya, nama-nama yang asing di telinga namun begitu akrab bagi tanah dan air wilayah pegunungan.
Nah kerennya lagi, Komunitas Permadi Guci Tegal tengah menyiapkan kawasan hutan sebagai arboretum dan sekolah alam.
Sebuah ruang belajar terbuka yang akan memperkenalkan generasi muda pada kekayaan hayati Gunung Slamet.
Hal ini senada dengan Ilmi Budimartani Balai KSDA Jawa Tengah menegaskan pentingnya penanaman pohon langka dalam mitigasi bencana, perlindungan sumber air.
Ia menyebutnya penanaman ini sebagai bagian dari konservasi eks situ, yakni pelestarian spesies langka di luar habitat aslinya.
“Ke depan, kawasan ini bisa menjadi sarana edukasi wisatawan. Mereka bisa belajar bahwa hutan bukan sekadar hanya tempat wisata, tapi ruang hidup yang harus dijaga bersama,” jelasnya.
Saat siang berganti sore, gerimis tak kunjung reda, namun tak ada satupun orang yang mengeluh.
Bagi para pemuda ini, hujan dan panas merupakan teman setia yang telah membantu menumbuhkan harapan.
Setiap pohon yang ditanam adalah Do’a yang diam, akar yang menghujam, daun serta ranting sebagai payung alam.
Di tengah dunia yang semakin panas dan bising, di lereng sunyi Gunung Slamet, anak-anak muda ini memilih untuk menyapa masa depan lewat pohon.
Dengan tangan yang kotor oleh tanah, mereka membuktikan bahwa harapan tak harus besar dan berkilau. Kadang, cukup satu bibit, satu lubang tanam, dan niat yang tak goyah.
Dan di sanalah, di jantung hutan yang basah, lereng Gunung Slamet kembali bernapas.
Bersama pemuda-pemudi yang penuh menginsipirasi menanam bukan hanya pohon, tapi juga masa depan.***

