Rontoknya Saham Teknologi Raksasa Wall Street
Faktor utama yang menjadi katalis negatif bagi pergerakan harga Bitcoin adalah kejatuhan bursa saham utama Amerika Serikat. Pada sesi perdagangan tanggal 5 November, indeks Nasdaq Composite terkoreksi dalam sebesar 4,7%.
Indeks S&P 500 secara bersamaan turut melemah sebesar 3,5% akibat aksi ambil untung massal. Tekanan paling parah dirasakan oleh emiten teknologi semikonduktor terkemuka dunia.
Saham perusahaan kecerdasan buatan Nvidia terkoreksi sebesar 7,5%. Di sisi lain, saham AMD mengalami kejatuhan paling parah dengan anjlok sekitar 14,6% dalam satu sesi perdagangan.
“Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar saham dapat merembet ke pasar kripto. Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi ikut mengalami tekanan jual,” jelas Yudho.
Fluktuasi Arus Dana ETF Bitcoin Spot
Dinamika pasar kripto pada awal November 2026 juga diwarnai oleh pergerakan arus dana keluar dan masuk pada produk ETF Bitcoin spot di bursa Amerika Serikat. Produk investasi institusional ini sempat mencatatkan tren negatif yang cukup mengkhawatirkan.
Pada 3 November, produk ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar bersih atau net outflow sebesar US115,6 juta. Secara akumulatif, total penarikan dana institusional tersebut bahkan telah melampaui angka US1,15 miliar dalam tiga sesi perdagangan beruntun.
Meski demikian, secercah harapan sempat muncul sehari berselang pada 4 November. ETF Bitcoin spot kembali mencatatkan arus masuk bersih atau net inflow sebesar US$74,6 juta.
“Arus dana ETF Bitcoin sempat kembali positif, hal ini belum cukup untuk memastikan pemulihan harga secara berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati perkembangan sentimen global dan stabilitas pasar dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Yudho.
Lonjakan Likuiditas Pasar Derivatif
Tekanan jual yang terjadi secara mendadak turut memicu badai likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto. Data internal dari FLOQ mencatat total likuidasi global mencapai kisaran US$1,08 miliar hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Sebagian besar dari angka tersebut, yakni sebesar US$954,38 juta, berasal dari posisi long para trader. Besarnya angka likuidasi ini mengindikasikan bahwa banyak pelaku pasar yang berspekulasi pada kenaikan harga justru terjebak ketika Bitcoin mengalami pembalikan arah secara tajam.

