Sungai Pedes kembali mencekam. Longsor mengancam. Tanggul jebol. Arus semakin ganas.
Beberapa rumah kini berada di zona bahaya. Warga ketakutan. Tragedi bisa terjadi kapan saja.
Swadaya Warga Sudah Mentok
Mari kita bicara jujur. Masyarakat sudah berusaha keras. Mereka mengumpulkan bambu ampel untuk trucuk darurat. Gotong royong dilakukan dengan semangat tinggi.
Tapi itu belum cukup.
Bronjong belum terpasang. Alat berat hasil patungan warga sudah berhenti beroperasi. Alasannya sederhana: dana habis.
Ini bukan soal malas atau tidak peduli. Ini soal kemampuan yang memang terbatas. Bagaimana mungkin warga biasa bisa mendanai penanganan bencana dalam skala besar?
Sementara itu, ancaman makin nyata. Longsor susulan bisa terjadi. Banjir mengintai. Setiap hari adalah pertaruhan keselamatan.
Dua Keluarga Sudah Kehilangan Rumah
Di Desa Tonjong, kisah Tahroni dan Kasori menyayat hati. Rumah mereka ambruk. Terseret arus sungai yang tak kenal ampun.
Baca Juga:
Ketika Hukum Baru Datang Tanpa Penjelasan…
❯
Mereka sempat menyelamatkan barang berharga. Tapi rumah? Habis sudah.
Bayangkan perasaan mereka. Puluhan tahun membangun kehidupan, lenyap dalam hitungan hari.
Kondisi serupa terjadi di RT 05 RW 09 Desa Kutamendala. Satu rumah terancam longsor parah. Penghuninya harus membongkar sendiri rumahnya. Mereka kini mengungsi, tanpa kepastian kapan bisa pulang.
Pemerintah, Ini Waktunya Bertindak
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan warga harus berjuang sendiri?
Ini bukan lagi soal swadaya atau gotong royong. Ini tentang tanggung jawab negara melindungi warganya.
Pemerintah daerah harus segera turun tangan. Kirim alat berat. Sediakan material bronjong. Bangun tanggul yang kuat.
Jangan tunggu korban jiwa berjatuhan. Jangan tunggu puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Penanganan darurat harus dimulai sekarang. Bukan besok. Bukan minggu depan.
Risiko Masih Sangat Tinggi
Kondisi lapangan menunjukkan situasi genting. Tanggul yang jebol membuat arus sungai makin deras. Pengikisan tebing berlangsung terus-menerus.
Hujan bisa memperburuk keadaan kapan saja. Tanah longsor susulan sangat mungkin terjadi. Rumah-rumah lain bisa ikut ambruk.
Warga sudah waspada. Mereka sudah gotong royong. Tapi kewaspadaan dan gotong royong tak cukup melawan bencana alam.
Mereka butuh intervensi struktural. Butuh anggaran memadai. Butuh peralatan modern.
Solidaritas Tetap Penting
Sambil menunggu pemerintah bertindak, solidaritas masyarakat tetap diperlukan. Jika Anda bisa membantu, bantulah.
Bambu, terpal, makanan, atau bantuan dana—semuanya berarti. Setiap kontribusi membantu meringankan beban warga yang terdampak.
Tapi jangan salah paham. Solidaritas bukan pengganti kewajiban pemerintah. Ini hanya penyangga sementara sambil menunggu solusi permanen.
Pelajaran untuk Semua
Bencana di Kali Pedes mengingatkan kita pada satu hal: pencegahan lebih baik daripada penanganan darurat.
Pemerintah harus serius menata daerah aliran sungai. Bangun infrastruktur pencegahan banjir dan longsor yang kokoh. Lakukan kajian risiko bencana secara berkala.
Jangan biarkan warga selalu jadi korban keterlambatan. Jangan biarkan tragedi berulang.
Kepada pemerintah: bertindaklah sekarang. Warga Desa Tonjong dan Kutamendala tidak bisa menunggu lagi.***
***Rubik Tajuk Rencana merupakan perpektif redaksi terhadap permasalahan dan peristiwa yang terjadi.

