Portal Pantura, Brebes – Inflasi sering dianggap sebagai persoalan ekonomi yang membebani semua orang secara setara. Namun kenyataannya, dampaknya jauh dari merata.
Kenaikan harga barang dan jasa justru cenderung mengalihkan daya beli dari kelompok berpenghasilan tetap ke pemilik aset investasi. Rumah tangga pekerja tergerus, sementara kekayaan pemilik modal terus bertambah.
Dikutip dari New Trader U, Senin (6/7/2026), berikut lima mekanisme di balik ketimpangan dampak inflasi tersebut.
1. Efek Cantillon: Penerima Uang Baru Diuntungkan Lebih Dulu
Konsep Cantillon Effect menjelaskan bahwa pihak yang lebih dulu mendapat akses ke uang baru dalam perekonomian akan diuntungkan, karena bisa membelanjakan atau menginvestasikannya sebelum harga naik.
Saat bank sentral menurunkan suku bunga atau menambah jumlah uang beredar, bank besar dan investor biasanya menjadi kelompok pertama yang mengakses kredit murah itu.
Pekerja Baru Merasakan Dampak Belakangan
Dana tersebut lebih dulu dipakai untuk membeli saham, properti, atau aset lain sebelum harganya melonjak. Sementara itu, pekerja baru merasakan efeknya setelah harga kebutuhan pokok seperti pangan, sewa rumah, dan bahan bakar naik lebih dulu.
Kenaikan gaji pun biasanya menyusul lebih lambat. Jika kenaikan upah lebih rendah dari laju inflasi, daya beli pekerja tetap menurun meski nominal gajinya bertambah.
2. Harga Aset Melesat Lebih Cepat dari Barang Konsumsi
Inflasi tak hanya mengerek harga kebutuhan harian, tapi juga mendorong nilai aset seperti saham, properti, dan tanah — kerap dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Kelompok berpenghasilan tinggi umumnya menyimpan sebagian besar kekayaan dalam bentuk aset semacam ini, sehingga kekayaan mereka otomatis membesar saat harga aset naik.
Sebaliknya, rumah tangga pekerja lebih banyak menyimpan uang tunai atau tabungan berbunga rendah, yang nilainya justru tergerus inflasi dari waktu ke waktu.
3. Inflasi Meringankan Beban Utang Jangka Panjang
Dampak inflasi terhadap utang juga berbeda tergantung jenis pinjamannya. Kelompok kaya dan korporasi besar umumnya memegang utang jangka panjang berbunga tetap, seperti KPR atau obligasi.
Saat inflasi naik, nilai riil utang tersebut justru menyusut karena uang yang dipakai melunasi menjadi “lebih murah”.
Pekerja Terbebani Bunga yang Naik
Rumah tangga pekerja lebih banyak bergantung pada kartu kredit atau kredit kendaraan dengan bunga mengambang. Saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, beban cicilan mereka justru makin berat.
4. Perusahaan Bisa Menaikkan Harga Sambil Menjaga Untung
Ketika biaya produksi naik, banyak perusahaan meneruskan kenaikan itu ke konsumen — bahkan terkadang melebihi kenaikan biayanya sendiri, sehingga margin keuntungan justru membesar.
Pemilik perusahaan dan pemegang saham diuntungkan lewat laba dan dividen yang meningkat. Sektor seperti pertambangan emas dan produsen minyak bisa meraup untung lebih besar saat harga komoditas naik.
Di sisi lain, pekerja menghadapi tekanan ganda: harga barang naik, sementara kenaikan upah biasanya tertinggal jauh di belakang.
5. Kenaikan Gaji Bisa Berujung Pajak Lebih Tinggi
Inflasi turut memengaruhi sistem pajak lewat fenomena bracket creep — kenaikan gaji secara nominal yang mendorong seseorang masuk ke golongan tarif pajak lebih tinggi, meski daya beli riilnya justru turun.
Sementara itu, kelompok kaya kerap memperoleh penghasilan dari keuntungan investasi (capital gains), yang di banyak negara dikenai tarif pajak lebih rendah dibanding penghasilan dari upah.
Sebagai ilustrasi, pekerja yang gajinya naik 5 persen sementara inflasi mencapai 7 persen tetap mengalami penurunan daya beli riil — bahkan berpotensi membayar pajak lebih besar jika kenaikan itu memindahkannya ke lapisan tarif yang lebih tinggi.
Inflasi Tidak Adil bagi Semua Kalangan
Secara umum, inflasi lebih menguntungkan pemilik aset investasi dan utang berbunga tetap jangka panjang. Sebaliknya, kelompok yang mengandalkan gaji bulanan, tabungan tunai, dan pinjaman jangka pendek lebih rentan kehilangan daya beli.
Memahami pola ini bisa membantu masyarakat mengambil keputusan lebih bijak dalam mengelola tabungan, berinvestasi, dan menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.***

