Portal Pantura, Brebes – Harga emas perhiasan di Indonesia pada Senin (9/2/2026) tidak mengalami perubahan dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Pantauan di tiga gerai utama—Raja Emas Indonesia, Laku Emas, dan Hartadinata Abadi—menunjukkan angka yang konsisten tanpa koreksi naik maupun turun.
Stabilitas ini terjadi setelah pasar mencatatkan kenaikan signifikan pada pekan lalu. Kondisi stagnan tersebut mencerminkan sikap pelaku pasar yang menunggu sinyal lebih jelas dari dinamika ekonomi global dan domestik.
Data Harga Terkini
Di Raja Emas Indonesia, emas 24 karat dipatok Rp2.450.000 per gram, sementara 18 karat dijual Rp1.658.000 per gram. Kedua angka tersebut tidak berubah dari Minggu kemarin.
Laku Emas, yang membawahi merek Mondial dan Frank & co., menawarkan emas 24 karat seharga Rp2.439.000 per gram dan 18 karat Rp1.655.000 per gram—juga stabil dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, Hartadinata Abadi mempertahankan harga emas 22 karat di level Rp2.797.000 per gram dan 16 karat Rp2.308.000 per gram.
Faktor Penentu Harga
Analis pasar logam mulia menjelaskan bahwa stabilitas harga emas perhiasan dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang diprediksi tidak berubah dalam waktu dekat membuat harga emas global bergerak dalam rentang sempit.
Kedua, di pasar domestik, permintaan perhiasan biasanya mengalami normalisasi setelah puncak di awal bulan. Hal ini turut menjaga harga tetap rasional tanpa gejolak signifikan.
Ketiga, nilai tukar rupiah yang relatif stabil terhadap dolar AS juga berkontribusi pada kestabilan harga emas dalam mata uang lokal.
Perbedaan Harga Antar Gerai
Konsumen mungkin bertanya mengapa harga emas berbeda di setiap toko meski kadarnya sama. Perbedaan ini wajar mengingat setiap gerai memiliki struktur biaya operasional dan kebijakan margin yang berbeda.
Hartadinata Abadi, sebagai produsen terintegrasi, seringkali memiliki standar harga tersendiri. Sementara Laku Emas yang fokus pada jaringan retail mall dan platform digital memiliki strategi penetapan harga yang berbeda dengan Raja Emas Indonesia yang lebih tradisional.

