Portal Pantura – Harga emas mengalami koreksi dari level tertinggi sepanjang masa setelah menyentuh area $2.685 per troy ounce. Penurunan ini terjadi di tengah aksi ambil untung menjelang liburan Natal dan kondisi likuiditas pasar yang menipis.
Meski begitu, analis memandang koreksi ini hanya sebagai jeda sementara. Tren kenaikan emas diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun depan.
Aksi Ambil Untung Tekan Harga
Pasar emas mencatat pergeseran momentum signifikan jelang akhir tahun. Setelah menembus level psikologis $2.650, harga mengalami tekanan jual dari investor yang mengambil keuntungan.
Secara teknis, indikator MACD masih menunjukkan sinyal positif. Ini mengindikasikan pembeli masih mengendalikan pasar meskipun Relative Strength Index (RSI) berada di zona overbought.
Support langsung berada di level $2.603 per troy ounce. Selama harga bertahan di atas level ini, prospek bullish tetap terjaga.
Ketegangan Geopolitik Dorong Permintaan Safe Haven
Ketidakpastian global menjadi pendorong utama kenaikan emas. Eskalasi perang Rusia-Ukraina dan potensi konflik antara Israel dan Iran meningkatkan minat terhadap aset safe haven.
Selain itu, sanksi AS terhadap kapal tanker minyak Venezuela menambah risiko geopolitik. Kondisi ini membuat investor memandang setiap koreksi harga sebagai peluang beli strategis.
Ketidakpastian politik domestik AS juga berkontribusi. Ancaman penutupan pemerintahan federal terlama dalam sejarah menciptakan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi.
Dolar Lemah Beri Angin Segar
Indeks Dolar AS (DXY) berada di level terendah 11 minggu terakhir. Pelemahan ini dipicu data inflasi November yang lebih rendah dari perkiraan dan sinyal pendinginan pasar tenaga kerja.
Pelaku pasar kini mengantisipasi Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga pada 2026. Ekspektasi dovish ini semakin kuat setelah tekanan politik dari Presiden Trump yang menginginkan biaya pinjaman lebih rendah.

