Portal Pantura, Jakarta – Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan capaian gemilang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 22,10 persen, ditutup pada level 8.644,26 per 29 Desember 2025.
Kapitalisasi pasar tembus Rp15.810 triliun, tumbuh 28,16 persen sepanjang tahun. Angka ini melampaui target yang ditetapkan dalam Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
“Pasar Modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat,” ujar Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Selasa (31/12/2025) di Jakarta.
Tantangan Global Tak Surutkan Kinerja
Pencapaian ini diraih meski pasar menghadapi tekanan berat. Ketidakpastian kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan sentimen perdagangan negatif menghantui sepanjang 2025.
Inarno menegaskan, keberhasilan ini bukan kebetulan. “Hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” jelasnya.
Rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto 2024 mencapai 71,41 persen. Pasar obligasi juga menunjukkan performa solid dengan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 12,10 persen ke level 440,19.
Investor Milenial dan Gen Z Dominasi Pasar
Jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5,34 juta sepanjang 2025. Total investor kini mencapai 20,2 juta SID.
Fakta menarik: 79 persen investor berusia di bawah 40 tahun. Generasi muda mendominasi pasar modal Indonesia.
Penghimpunan dana mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum. Angka ini melampaui target Rp220 triliun. Sebanyak 18 emiten baru saham dan 2 emiten Efek Beragun Aset (EBUS) masuk bursa.
Industri pengelolaan investasi mencatat dana kelolaan Rp1.039 triliun, tumbuh 24,16 persen. Securities Crowdfunding mengumpulkan Rp1,808 triliun secara akumulatif dari 968 penerbit.
Perdagangan Karbon Mulai Menggeliat
Pasar karbon menunjukkan perkembangan positif. Volume transaksi sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen, senilai Rp80,75 miliar.
Sebanyak 150 perusahaan berpartisipasi. Unit karbon yang tersedia mencapai 2,67 juta ton CO2 ekuivalen.
OJK meluncurkan buku panduan “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan” pada 15 Juli 2025. Publikasi ini menjadi rujukan industri dan publik untuk memperkuat ekosistem ekonomi hijau.
Penegakan Aturan Diperketat
OJK serius menjaga integritas pasar. Sepanjang 2025, regulator melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus terkait dugaan pelanggaran.
Sebanyak 116 kasus berkaitan dengan transaksi saham. OJK menjatuhkan 120 sanksi administratif untuk kasus pelanggaran dan 1.180 sanksi keterlambatan laporan.
Total denda administratif mencapai Rp123,3 miliar. Sanksi tegas dijatuhkan: enam pencabutan izin, enam perintah tertulis, dan 329 peringatan tertulis.
Regulasi Baru Perkuat Fondasi Pasar
OJK menerbitkan sepuluh Peraturan OJK (POJK) dan enam Surat Edaran OJK sepanjang 2025.
POJK 1/2025 mengatur derivatif keuangan berbasis efek, menjadi tonggak penting pengawasan derivatif. POJK 9/2025 membahas dematerialisasi efek ekuitas dan aset tidak diklaim.
POJK 15/2025 mengatur pemeringkatan reksa dana dan manajer investasi berbasis rating. Regulasi ini memperkuat transparansi dan akuntabilitas industri.
OJK juga mengintegrasikan layanan melalui penyatuan SPRINT OJK dan SPEK KSEI untuk pendaftaran reksa dana. Proses perizinan kini lebih cepat, akurat, dan terpusat.
Empat Agenda Strategis 2026
Memasuki 2026, OJK menetapkan empat prioritas utama. Pertama, pendalaman pasar melalui penguatan suplai, permintaan, dan infrastruktur pengawasan.
Kedua, peningkatan integritas pasar dengan efektivitas sanksi dan kualitas emiten. Ketiga, penguatan kelembagaan perusahaan efek dan manajer investasi, fokus pada ketahanan siber dan pengendalian internal.
Keempat, pengembangan keuangan berkelanjutan. OJK akan memperluas pengguna bursa karbon dan meluncurkan roadmap keberlanjutan 2026-2030.
Eddy Manindo Harahap, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal OJK, optimistis momentum positif akan berlanjut. “Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.***
Sumber: OJK.
Tim Redaksi
