Kesepakatan terbaru ini pun dipandang pasar sebagai peluang pemulihan hubungan dagang, khususnya sektor pertanian.
Pasar Masih Skeptis
Tidak semua pihak optimistis. Barron’s mencatat China pernah membuat janji serupa dalam kesepakatan dagang fase pertama pada 2020, namun realisasinya tidak sepenuhnya tercapai.
Sejumlah hambatan juga masih mengintai, mulai dari harga daging sapi AS yang tinggi, keterbatasan pasokan akibat kekeringan, hingga hubungan dagang China yang kian erat dengan Brasil.
Selain itu, China sendiri tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan. Reuters melaporkan, China mendorong efisiensi penggunaan pakan ternak yang berpotensi memangkas impor kedelai hingga 25 persen dalam dekade ini.
Brasil Tetap Jadi Pesaing Berat
Brasil tidak tinggal diam. Ekspor kedelai Brasil ke China sepanjang 2025 mencapai 34,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 611,20 triliun.
Produksi kedelai Brasil bahkan diproyeksikan mencetak rekor 180 juta ton pada 2026. Broker Stag International menilai Brasil tetap memiliki daya saing struktural yang kuat di pasar global.
Artinya, persaingan pasar kedelai dunia masih akan berlangsung ketat meski AS membuka kembali peluang ekspor ke China.
Indonesia Menanggung Beban Impor
Bagi Indonesia, potensi kenaikan harga kedelai global bukan sekadar angka di layar bursa. Dampaknya terasa langsung.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total impor kedelai Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,56 juta ton, atau sekitar 90 persen dari total kebutuhan nasional.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyoroti masalah yang lebih dalam. Kepala Penelitinya, Ade Holis, menyebut selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar untuk dijelaskan hanya oleh biaya distribusi.

