Berdasarkan data mereka, harga kedelai impor di tingkat eceran domestik sepanjang Februari 2024 hingga Februari 2026 berada di kisaran Rp 13.300 hingga Rp 15.100 per kilogram. Sementara harga acuan internasional hanya Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram.
Selisihnya mencapai Rp 5.600 hingga Rp 8.500 per kilogram.
“Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik,” ujar Ade Holis, Minggu (10/5/2026).
Kajian NEXT Indonesia Center memperkirakan importir menikmati marjin indikatif sekitar Rp 5.060 per kilogram. Jika dikalikan volume impor 2,56 juta ton, potensi keuntungan importir bisa menembus Rp 12,9 triliun dalam setahun.
Perajin Tempe Malang: Ukuran Diperkecil, Harga Tetap
Di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, para perajin memilih tidak menaikkan harga jual. Strategi mereka: memperkecil ukuran.
Salah satu karyawan pengrajin, Ami, mengatakan harga kedelai kini sudah menyentuh Rp 10.900 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp 9.800 per kilogram.
“Kalau harga tempe tidak kita naikkan, jadi harganya tetap. Ukurannya saja yang kita kecilkan, lebih tipis dari sebelumnya, kira-kira 1,5 centimeter,” kata Ami, Selasa (19/5/2026).
Satu lonjor tempe ukuran besar dijual Rp 23.000 hingga Rp 25.000. Ukuran kecil dijual Rp 18.000 hingga Rp 20.000.
Dampaknya mulai terasa di pasar. Pelanggan yang biasa membeli tempe senilai Rp 10.000 kini banyak yang hanya membeli Rp 5.000 hingga Rp 7.000.
Produksi pun ikut turun. Dari semula 7 hingga 8 kuintal per hari, kini hanya sekitar 6,5 kuintal.

