“Harapan kami pemerintah bisa membantu produsen tempe rumahan seperti kami, dengan menurunkan harga kedelai,” ujar Ami.
Perajin Semarang: Harga Naik, Plastik Kemasan Melonjak 70 Persen
Di Kota Semarang, kondisinya tak jauh berbeda. Adip Muharam, produsen tempe di Pandean Lamper, Gayamsari, mengatakan harga kedelai sudah naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.500 hingga mendekati Rp 11.000 per kilogram sejak awal 2026.
“Karena kedelai kita memang mayoritas impor, jadi mau tidak mau ikut harga impor. Kalau kurs dollar makin naik, otomatis harga kedelai juga naik terus,” katanya, Selasa (19/5/2026).
Beban produksi makin berat karena harga plastik kemasan ikut melonjak. Ati, produsen lainnya, menyebut harga satu rol plastik melejit dari Rp 550.000 menjadi Rp 1,15 juta, atau naik sekitar 70 persen.
Akibatnya, harga tempe per bungkus naik bertahap dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000 sejak Mei 2026.
“Yang kami khawatirkan itu ketika harga makanan naik semua, tapi ekonomi masyarakat turun. Akhirnya pembeli berkurang,” kata Ati.
Produksi di tempat usahanya masih sekitar 5 hingga 6 kuintal per hari atau 2.000 hingga 3.000 potong tempe. Dipasarkan ke pasar tradisional, toko sayur, warung makan, hingga katering di Semarang.
Ati berharap pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Sebisa mungkin kurs rupiah itu tetap stabil sehingga harga-harga bahan baku seperti kedelai dan plastik juga bisa ikut stabil,” harapnya.
Bagi Indonesia, tantangan kedelai belum akan berakhir dalam waktu dekat. Selama ketergantungan terhadap impor masih tinggi dan rupiah tetap tertekan terhadap dollar AS, setiap gejolak harga global akan terus memukul perajin tempe di ujung rantai pasok.***

