Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) telah mengingatkan negara-negara anggota agar tidak menimbun energi atau membatasi ekspor. Situasi ini dinilai sebagai salah satu guncangan terbesar dalam pasar energi dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Dunia Usaha Masuk Fase Wait and See
Ketidakpastian global tak hanya memukul nilai tukar. Dunia usaha dalam negeri pun mulai menahan diri.
Ibrahim menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi AS-Iran membuat pelaku usaha lebih berhati-hati. Ekspektasi bisnis menurun. Penjualan stagnan.
“Ekspansi tidak sepenuhnya terhenti, melainkan mengalami penyesuaian strategi,” kata Ibrahim.
Pelaku usaha kini cenderung menunda investasi besar yang padat modal. Fokus beralih ke efisiensi dan optimalisasi operasional.
Arah investasi pun bergeser. Sektor pangan, energi, dan digital menjadi pilihan utama karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Setidaknya ada enam faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi saat ini, yakni ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan.
Harapan Perbaikan di Semester II-2026
Meski kondisi saat ini penuh tekanan, ada titik harapan. Ibrahim memperkirakan perbaikan kinerja bisnis berpotensi terjadi pada semester II-2026.
Syaratnya: tidak ada eskalasi lanjutan konflik global.
Konsumsi domestik tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, daya beli masyarakat perlu dijaga agar fondasi ini tidak goyah.

