Portal Pantura – Nilai tukar rupiah terus tertekan. Kurs rupiah mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini.
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah melemah ke posisi Rp17.880 per dolar AS. Bank Indonesia langsung turun tangan.
Tiga Faktor Penekan Rupiah
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyebut ada tiga faktor utama yang menekan rupiah saat ini.
Pertama, ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum mereda. Kedua, meningkatnya kebutuhan valuta asing secara musiman. Ketiga, terbatasnya aliran masuk dolar AS ke pasar domestik.
“Terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen,” ujar Denny.
Bank Indonesia Intervensi di Tiga Lini
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Otoritas moneter itu mengoptimalkan intervensi di tiga jalur pasar sekaligus.
Di pasar offshore, Bank Indonesia masuk melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF). Di pasar domestik, dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, Bank Indonesia secara konsisten membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan komitmen lembaganya hadir di pasar 24 jam penuh, tujuh hari seminggu, untuk menjaga stabilitas rupiah.
Batas Beli Dolar Diperketat Mulai Juni 2026
Bank Indonesia juga memperketat aturan pembelian dolar AS tanpa underlying. Mulai Juni 2026, batas pembelian dolar tunai diturunkan menjadi USD25.000 per pelaku per bulan.
Langkah ini bertujuan meredam lonjakan permintaan dolar AS dari pelaku yang tidak memiliki kebutuhan transaksi riil.

