5. Cahyani Dwi Hargai – Desa Jetis, Purbalingga
Cahyani Dwi Hargai memimpin Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga sejak dilantik pada 16 Desember 2016. Ia dikenal sebagai kepala desa yang kreatif dan peduli lingkungan.
Cahyani aktif memfasilitasi warga yang mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Ia juga rajin mengikuti kerja bakti bersama masyarakat.
6. Ramadhani Amalia – Desa Unko, Paser
Ramadhani Amalia terpilih sebagai Kepala Desa Unko, Kecamatan Muara Komam, Paser, Kalimantan Timur pada Pilkades serentak 2016. Ia mengalahkan seluruh lawannya dengan fokus pada pendidikan.
Di awal kepemimpinannya, Ramadhani berhasil merenovasi SD Negeri 07 yang sudah tidak layak pakai. Ia maju atas keinginan sendiri dan dukungan keluarga.
7. Santo Manik – Desa Bantilang, Luwu
Santo Manik adalah seorang single parent yang terpilih sebagai Kepala Desa Bantilang, Kecamatan Basstem Utara, Kabupaten Luwu. Desa yang dipimpinnya berjarak 85 kilometer dari Belopa, ibu kota Kabupaten Luwu.
Perempuan ini mengaku menghadapi banyak tantangan, termasuk jatuh bangun naik motor demi menjalankan tugas membangun desa.
8. Vhien Fondenosa – Desa Tumaluntung, Minahasa Utara
Vhien Fondenosa memimpin Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, Manado. Selain berpenampilan menarik, ia dikenal karena kepeduliannya terhadap masyarakat.
Vhien mengedepankan sikap gotong royong, terutama dalam peningkatan kesejahteraan dan pemeliharaan lingkungan. Ia juga menerapkan sistem bantuan yang merata dan tepat sasaran.
9. Jureana Usman – Desa Uggi, Wajo
Jureana Usman menjadi pusat perhatian saat dilantik sebagai Kepala Desa Uggi, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo pada 2017. Saat dilantik, usianya baru 25 tahun, menjadikannya salah satu kepala desa termuda.
Sebelumnya, Jureana pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Wajo pada 2014 namun tidak memperoleh suara cukup.

