UPDATE TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
Insight

Waspada Kemarau Panjang, Pahami Apa Itu Fenomena Alam El Nino

×

Waspada Kemarau Panjang, Pahami Apa Itu Fenomena Alam El Nino

Sebarkan artikel ini
Diterbitkan:
Kondisi tanah retak dan mengering di area persawahan akibat musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena cuaca alam El Nino. (Foto: Gemini/AI Generated)
⚡ RINGKASAN
Pahami apa itu El Nino, penyebab cuaca panas ekstrem, dampaknya bagi kekeringan lahan pertanian di Indonesia, serta langkah tepat untuk menghadapinya.

Portal Pantura – Fenomena belakangan ini sering menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat akibat yang terik. Banyak orang bertanya-tanya mengenai apa sebenarnya dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Secara sederhana, adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal. Peristiwa iklim ini terjadi secara periodik di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Pemanasan suhu permukaan laut ini pada akhirnya memicu perubahan pola pergerakan angin secara global. Akibatnya, curah hujan di wilayah Indonesia menjadi jauh lebih rendah dari batasan normalnya.

Pemicu Terjadinya

iklan

Kemunculan tidak terjadi begitu saja tanpa ada faktor pendorong dinamis dari alam. Fenomena ini merupakan bagian dari siklus iklim alami yang berulang setiap dua hingga tujuh tahun sekali.

Saat angin pasat yang biasanya bertiup dari arah timur ke barat mulai melemah, air hangat pun terdorong kembali ke timur. Kondisi pergerakan air inilah yang akhirnya menciptakan anomali cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, interaksi lautan dan atmosfer ini menyebabkan pergeseran jadwal musim kemarau. Musim kering seringkali datang lebih awal dan berlangsung jauh lebih lama dari biasanya.

Dampak Nyata di Wilayah Pantura

Dampak langsung dari fenomena ini sangat dirasakan oleh sektor pertanian secara nasional. Hal ini tentu tidak terkecuali bagi para petani yang berada di sepanjang jalur Pantai Utara atau Pantura.

Kekeringan ekstrem membuat pasokan air untuk irigasi persawahan warga menyusut secara drastis. Ribuan hektare lahan pertanian padi dan komoditas bawang merah di Kabupaten Brebes hingga wilayah sekitarnya rawan mengalami gagal panen.

“Jika pasokan air tidak diatur dengan baik, petani kita bisa rugi besar akibat kemarau panjang ini,” ujar salah satu penyuluh pertanian setempat. Oleh karena itu, langkah mitigasi dan tata kelola air harus segera disiapkan oleh pemerintah daerah.

Langkah Antisipasi yang Diperlukan

Untuk menghadapi ancaman secara efektif, masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama melakukan penghematan air. Pembuatan embung atau kantong air baru menjadi solusi jangka pendek yang sangat krusial bagi desa-desa rawan.

Tim Redaksi

Bondan Setiyono
Jurnalis Bondan Setiyono
Yudhi P
Editor Yudhi P
Bondan Setiyono

Terbaru dari Bondan Setiyono