IKLAN
Inside

Pesantren dalam Kungkungan Feodalisme (?)

Avatar photo
×

Pesantren dalam Kungkungan Feodalisme (?)

Sebarkan artikel ini
Aly Sobirin El-Muannatsy.
Aly Sobirin El-Muannatsy.

Di pesantren, santri diajak berani bertanya. Di kantor, pegawai diajari membaca suasana. Di pesantren, salah membaca Alfiyah Ibnu Malik disuruh mengulang. Sementara di kantor, salah membaca mood atasan bisa langsung kena tendang.

Feodalisme modern punya wajah ganteng nan lembut. Ia berbicara tentang kolaborasi, tetapi nyata menolak perbedaan suara. Di situ bicara tentang keterbukaan, tetapi tak siap benar-benar dikritik. Di ruang rapat tersenyum manis atas nama demokrasi, sambil menekan tombol mute pada mikrofon para pengritik.

IKLAN

Saya orang pesantren, tahu semua itu. Ya, kami semua tahu itu. Kita tahu banyak lembaga—baik politik, birokrasi, maupun korporasi—berjalan dengan logika feodal: siapa dekat, dia dapat. Siapa manggut-manggut, dia katut. Anda saja, pura-pura tidak tahu. Anda memilih diam, sebab Anda bagian dari itu. Dan Anda takut tersingkir.

Ketika muncul isu miring tentang pesantren, Anda cepat sekali menuding: “Lihat, betapa feodalnya mereka!”
Padahal dari rahim pesantren lahir banyak pemikir progresif, cendekiawan, dan pembaharu bangsa. Dari ruang-ruang ngaji yang sederhana itu, lahir orang-orang yang berani berpikir berbeda.

Di pesantren, taat bukan berarti buta. Taat adalah adab yang menuntun akal, bukan mengikatnya. Santri boleh hormat, tetapi tetap berpikir. Di sini sangat bening terklarifikasi: taat kepada ilmu dan taat pada ketaatan!

Feodalisme justru lahir di ruang-ruang modern. Ketika rasa hormat berubah menjadi rasa takut, rasa hormat bertujuan supaya diangkat, memuja-muji supaya dapat jatah.

Dan di ruang-ruang modern itu, rasa takut itu telah menjelma sistem: takut pada atasan, takut pada opini, takut pada hilangnya posisi.

Mari menatap cermin sosial kita. Pegawai takut pada manajer, manajer takut pada direktur, direktur takut pada komisaris, komisaris takut pada pemegang saham, dan pemegang saham takut pada pasar.

Lihat fakta di birokrasi. Staf takut pada atasan, baik tingkat kelurahan, camat, kabupaten, propinsi, departemen dan lembaga, bahkan partai politik sampai istana kepresidenan. Apakah Anda masih menjadi kura-kura di balik perahu bahwa para pimpinan partai sudah selaksa para dewa?

Inilah fakta empirik rantai ketakutan yang menjalar di negeri yang katanya sudah merdeka, bahkan yang katanya demokratis. Prek!

Tim Redaksi

Imam Muzaki
Reporter Imam Muzaki
---
Penulis ---
Portal Pantura
Editor Portal Pantura
Imam Muzaki

Terbaru dari Imam Muzaki