Anda bahkan menikmatinya tanpa sadar. Anda tunduk, hanya untuk diberi sedikit kenyamanan. Anda suka menyembah, asal ada posisi aman. Anda menunduk, supaya dapat proyek.
Mari kita menelisik secara waras, feodalisme faktual berbahaya justru ada di kebiasaan sehari-hari: Dalam cara kita menyusun kalimat agar terdengar menyenangkan. Dalam cara kita memilih diam saat tahu sesuatu keliru. Dalam cara kita menganggap hormat itu sama dengan patuh tanpa berpikir.
Maka, ketika orang berkata pesantren itu feodal, saya hanya tersenyum. Feodalisme di pesantren — jika itu dianggap demikian — masih bisa dijelaskan baik secara keilmuan maupun praktikal: litho’atilLah, la lima’shiyatilLah, untuk taat kepada Allah, bukan untuk bermaksiat kepadanya.
Pesantren memang mengajarkan ketaatan, namun ketaatan pada kemandirian ilmu dalam pelayanan. Di sini, santri otomatis sadar betul: Akan memuja-muji pada siapa yang lebih berilmu, lebih bikal, dan lebih soleh darinya.
Feodalisme di luar pesantren jauh tidak bisa dibenarkan—karena yang dipatuhi bukan lagi kebijaksanaan, melainkan kekuasaan dan keuntungan pribadi mereka semua. Korupsi jam’iyyah (sistemik) terjadi tidak lain adalah karena hal ini: Mending ikut, daripada disingkirkan.
Pesantren masih melatih keberanian berpikir—dalam kesunyian, dalam doa, dalam perdebatan tafsir. Sementara banyak ruang publik justru melatih keberanian diam—demi jabatan, demi proyek, demi reputasi.
Waraslah! Kita tak pernah meninggalkan feodalisme. Kita hanya mengganti keraton dengan kantor, mengganti raja dengan pimpinan, mengganti titah dengan rapat-semu, mengganti upeti dengan laporan-manis plus amplop di balik meja, dan mengganti doa dengan slogan.
Pesantren, dengan segala keterbatasannya, masih berusaha melahirkan manusia yang tahu kapan harus tunduk dan kapan harus menegakkan kepala. Sementara di luar sana, banyak yang menegakkan kepala—tapi hanya untuk melihat siapa yang harus disenangkan hari ini.***
Tim Redaksi
