Roh leluhur dianggap bersemayam di rumah-rumah mereka, menjadi pelindung dan penjaga komunitas.
Keyakinan ini memengaruhi cara mereka memandang hutan, yang dianggap sebagai tempat suci.
Hutan bukan hanya sumber penghidupan bagi Suku Togutil, tetapi juga bagian dari identitas mereka.
Tradisi seperti Bubugo menunjukkan betapa pentingnya mereka menjaga keseimbangan alam.
Dalam tradisi ini, kawasan tertentu di hutan diberi tanda berupa botol yang diikat dengan kain kecil atau pita sebagai penanda larangan memasuki wilayah tersebut tanpa izin.
Larangan tersebut berlaku tidak hanya bagi anggota suku, tetapi juga bagi masyarakat luar.
Melanggar aturan ini diyakini akan membawa nasib buruk, seperti penyakit atau kejadian yang membahayakan pelaku.
Larangan semacam ini mencerminkan kesadaran ekologis mereka untuk mencegah eksploitasi hutan secara berlebihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Suku Togutil menggunakan bahasa Tobelo, bahasa yang juga digunakan oleh masyarakat pesisir di Halmahera.
Bahasa ini menjadi jembatan komunikasi di antara mereka sekaligus menjaga identitas budaya suku tersebut.
Tim Redaksi
