TERBARU
Memuat berita terbaru...
IKLAN
News

Ahmad Dhani Ungkap Alasan Cerai dari Maia, Bagaimana Islam Memandang Perselingkuhan?

×

Ahmad Dhani Ungkap Alasan Cerai dari Maia, Bagaimana Islam Memandang Perselingkuhan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pernikahan. (Foto: Jeremy Wong/pexels)
Ilustrasi pernikahan. (Foto: Jeremy Wong/pexels)
IKLAN
Ukuran teks

Portal Pantura – kembali jadi sorotan. Musisi sekaligus politisi itu secara terbuka menyebut alasan di balik perceraiannya dengan Maia Estianty hampir dua dekade lalu.

Pernyataannya langsung memantik perdebatan di media sosial.

“Bulan Desember tahun 2006. Jadi karena Maia selingkuh, saya ceraikan dia,” ujar saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

iklan

Ucapan itu seketika memunculkan pertanyaan di benak banyak orang: apakah mewajibkan suami menceraikan istri yang berselingkuh?

Tidak Ada Kewajiban Menceraikan

Jawabannya: tidak.

Berdasarkan kajian fikih yang dimuat di situs Konsultasi Syariah, tidak menetapkan kewajiban bagi suami untuk langsung menceraikan istri yang terbukti berselingkuh.

Perceraian bukan satu-satunya jalan keluar.

Buya Yahya: Jangan Terburu-buru

Ulama Buya Yahya memberikan pandangan serupa dalam ceramahnya di kanal Al-Bahjah TV.

Ia mengingatkan bahwa manusia bisa “terpeleset” dalam kesalahan. Selama ada penyesalan yang tulus, pintu untuk memperbaiki rumah tangga masih terbuka.

Buya Yahya menyarankan agar pihak yang diselingkuhi tetap tenang dan tidak mengambil keputusan di puncak emosi.

“Kalau ada tanda-tanda penyesalan, tentu yang terbaik adalah membantu pasangan tersebut. Namun, jika tidak, maka jalan terbaik adalah berpisah secara baik-baik,” kata Buya Yahya.

Kapan Perceraian Dibolehkan?

memberi ruang untuk bercerai ketika perselingkuhan terus berulang dan menimbulkan mudarat besar dalam rumah tangga.

Dalam kondisi itu, perceraian diperbolehkan demi mencegah kerusakan yang lebih luas, termasuk dampak pada anak-anak.

Namun, tetap menganjurkan agar setiap persoalan rumah tangga diselesaikan lewat musyawarah, dengan kepala dingin, dan mempertimbangkan kemaslahatan semua pihak.

Kesimpulannya, keputusan bertahan atau bercerai sepenuhnya kembali pada kondisi masing-masing pasangan. Yang terpenting, keputusan itu lahir dari pertimbangan matang, bukan semata dorongan emosi sesaat.***

Yudhi P

Terbaru dari Yudhi P