Merespons tekanan tersebut, Khamenei bersikeras. “Bangsa Iran tidak akan menyerah. Intervensi militer AS akan membawa kerusakan yang tidak bisa diperbaiki,” ujarnya dalam salah satu pidato terakhirnya.
Warisan yang Terpecah
Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan dan kemandirian bangsa di hadapan tekanan Barat dan Israel. Namun bagi kaum pengkritik, ia adalah pemimpin yang semakin jauh dari aspirasi generasi muda Iran yang mendambakan reformasi, keterbukaan ekonomi, dan kehidupan yang lebih normal, bukan isolasi dan konfrontasi tanpa ujung.
Kini, dengan kepergiannya, Iran menghadapi kekosongan kepemimpinan terbesar dalam sejarahnya. Siapa yang akan mengisi posisi itu, dan ke arah mana Republik Islam akan melangkah, menjadi pertanyaan yang akan menentukan wajah kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.***
